PERAN WANITA PEJUANG DI SUMATERA UTARA

Home / Umum / PERAN WANITA PEJUANG DI SUMATERA UTARA

PERAN WANITA PEJUANG DI SUMATERA UTARA

PERAN WANITA PEJUANG DI SUMATERA UTARA

Biografi singkat tentang Putri Lopian Sisingamangaraja XII
Putri Lopian Sinambela adalah anak ke-3 dari tiga bersaudara dari Raja Sisingamangaraja XII. Ibunya adalah Boru Sagala Kakak tertuanya bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi adalah kakak keduanya. Ia lahir di Pearaja Dairi desa Sionomhudon. Kota ini adalah pusat perjuangan Sisingamangaraja XII. Lopian sedari kecil sering bergaul dengan para pejuang termasuk para panglima dari Aceh yaitu teuku Nyak Bantal dan Teuku Muhammad Ben.
Lopian tumbuh di pekarangan kerajaan yang membuatnya terdidik secara fikiran dan fisik. Ia belajar ilmu bela diri di Istana dan sering ikut andil dalam kemiliteran. Saat usianya 17 tahun, ia terjun langsung bergerilya melawan pasukan Belanda bersama sang ayah (SSM XII) dan akhirnya tewas tertembak dan bersimbah darah di pangkuan sang ayah.

2. Peran Putri Lopian pada perang melawan Belanda

Satu abad lebih telah silam.Tanggal 17 Juni 1907 adalah hari bersejarah bagi orang Batak, dikaitkan dengan sejarah perjuangan ”Patuan Bosar Ompu Pulo Batu (Raja Sisingamangaraja XII)”. Pada hari itu, di suatu tempat sepi di sekitar Pearaja, Sionom Hudon, Dairi, sejarah mencatat tragedi kematian Sisingamangaraja XII (SSM XII). Dua orang putranya yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta empat orang panglimanya yang setia, ikut tewas pada waktu yang hampir bersamaan.
Dalam bingkai kisah tragis itu, anak perempuan SSM XII bernama Lopian (lazim disebut Putri Lopian) mengalami luka cukup parah terkena peluru senapan serdadu Belanda yang dipimpin kapten Christoffel. Saat itu Lopian masih berusia 17 tahun. Dia setia hingga akhir mengikuti ayahandanya ketika SSM XII diburu Belanda keluar masuk hutan belantara.
Meski dalam beberapa hal, kisah kematian SSM XII kadang ada selisih versi, namun secara umum merupakan gambaran historis tentang adegan klimaks yang amat dramatis dari seluruh mata rantai perjuangan SSM XII selama lebih kurang 30 tahun menentang Belanda. Momentum pertempuran sengit di sekitar Pearaja, Dairi, adalah fakta sejarah dimana hampir seluruh sanak keluarga SSM XII turut terlibat secara frontal menghadapi kepungan tentara Belanda yang penuh nafsu membunuh. Berdasarkan sejumlah referensi seputar tragedi kematian SSM XII, detik-detik terakhir pada media Juni 1907 itu, merupakan momentum sangat genting penuh ketegangan. Pada saat itu, SSM XII bersama isteri, anak-anak, para panglima dan sisa pasukannya, terlunta-lunta naik turun jurang, keluar masuk hutan, dalam kejaran tentara Belanda yang jumlahnya besar dengan kelengkapan senjata lebih modern.
Sore yang kelabu tanggal 17 Juni itu, agaknya sudah ditakdirkan sebagai akhir perlawanan SSM XII. Dalam posisi terjepit oleh pasukan Christoffel, pasukan SSM XII dengan persenjataan kelewang, tombak, dan bambu runcing, benar-benar tak berdaya menghadapi hujan peluru yang dimuntahkan serdadu- serdadu Belanda. Patuan Nagari tewas tertembak di antara desing peluru yang tiada hentinya. Sejumlah sisa pasukan SSM XII juga jatuh terkapar saat mencoba melakukan perlawanan. Sementara itu Kapten Christoffel berseru, agar SSM XII menyerah dan supaya piso gajah dompak yang terkenal keramat itu diberikan. Tetapi SSM XII dari tempatnya berlindung menyahut tegas: “Lebih baik mati dari pada menyerah kepada penjajah”.
Pada saat bersamaan, terdengar jeritan Lopian putri sang raja, yang rupanya terkena tembakan. Seketika SSM XII terkejut melihat putrinya tercinta rubuh bersimbah darah di atas rerumputan. Dengan piso gajah dompakterhunus di tangan, SSM XII mendekati Lopian dengan langkah gontai, dan langsung memangkunya. Amarahnya meluap. Hatinya luluh melihat putrinya sekarat diterjang peluru penjajah. Namun saat itulah SSM XII tersentak, sadar, bahwa ia berpantang kena darah. Tubuhnya digambarkan lesu, dan kesaktiannya yang legendaries itu seakan pudar. Lalu SSM XII berbisik:” Saatnya sudah tiba…” Tak berapa lama kemudian, beliau juga rubuh oleh tembakan yang dilepas Christoffel dalam jarak tak terlalu jauh. Melihat hal itu, para panglima dan pengikut SSM XII bagai terpana. Sulit mempercayai baginda bisa dilukai peluru.

RECENT POSTS