Keadaan Dinasti Syafawiyah Pasca Peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M

Home / Umum / Keadaan Dinasti Syafawiyah Pasca Peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M

Keadaan Dinasti Syafawiyah Pasca Peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M

Keadaan Dinasti Syafawiyah Pasca Peristiwa Perang Chaldiran tahun 1514 M

Sutan Salim I merasa cukup dengan kemenangannya di Chaldiran.

Dia terpaksa kembali ke negaranya dan tidak melakukan pengejaran karena berapa sebab :

1. Adanya pembangkangan di barisan petinggi tentara Utsmani untuk meneruskan peperangan di Persia, setelah Sultan Salim I berhasil mewujudkan tujuannya dan mampu melemahkan kekuatan Syah Ismail.
2. Sultan Salim I merasa khawatir pasukannya akan jatuh ke dalam perangkap orang-orang Syafawi jika mereka terlalu dalam memasuki negeri mereka.
3. Dia berpendapat bahwa sudah saatnya untuk menaklukkan kerajaan Mamluk. Sebab, perangkat keamanan Dinasti Utsmani mengawasi adanya surat-menyurat antara kaum Mamalik dengan orang-orang Syafawi yang menunjukan ada kerjasama untuk melawan Dinasti Utsmani.
Kekalahan Dinasti Syafawiyah pada Perang Chaldiran, tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Syah Ismail. Akibatnya, kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan Syafawi, yaitu terjainya persainan segitiga antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk memimpin kerajaan Syafawi.
Konflik antara Dinasti Utsmani dengan Dinasti Syafawi tidak berhenti setelah perang Chaldiran berakhir. Sepeninggal Ismail, peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M ), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga Raja tersebut, Dinasti Syafawi dalam keadaan lemah. Di samping karena seringnya terjadi peperangan melawan Dinasti Utsmani, yang lebih kuat, juga karena sering terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam negeri. Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja Syafawi ke lima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588-1628 M.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Syafawi ialah: pertama, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan syafawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Tahmasp I. kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani. Untuk mewujudkan pernjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georigia, dan sebagian wilayah Luristan. Di samping itu, Abbas berjanji tidak akan menghina tiga Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman) dalam khotbah-khotbah Jumat. Sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia menyerahka saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai sanera di Istanbul.
Adapun dampak yang ditimbulkan akibat Perang Chaldiran adalah sebagai berikut:
1. Masuknya wilayah Irak bagian utara dan Diyarbakir ke dalam kekuasaan Dinasti Utsmaniah.
2. Bangsa Turki Utsmani mengamankan batas-batas Negara mereka di sebelah Timur.
3. Mazhab Sunni menjadi dominan di Asia Kecil setelah Sultan Salim I berhasil menumpas para pengikut dan pendukun Syah Ismail, ditambah kekalahan orang-orang Syiah di Chaldiran. Ini menunjukkan bahwa Dinasti Utsmaniah memiliki rasa tangung jawab terhaap Dunia Islam, khususnya setelah ia mengumumkan dirinya sebagai pelindung kaum muslimin.
4. Tumbuhnya kesadaran Dinasti Utsmaniah akan pentingnya menumpas kekuatan yang kedua, yakni Dinasti Mamluk.
5. Konflik bersenjata antara Dinasti Utsmaniah dengan Dinasti Syafawiyah mengakibatkan turunnya pendapatan bea cukai pemerintahan Utsmani dari jalur-jalur perdagangan yang lama di Anatolia. Pemasukan Negara mengalami penurunan setelah tahun 918 H (1512M) sebagai akibat dari peperangan-peperangan yang terjadi anatara kaum Syafawi dengan bangsa Turki Utsmani. Sebab, sebagian besar jalur perdagangan yang lama ditutup, di sampig timbulnya berbagai macam bahaya. Akibatnya, perdagangan bilateral antara wilayah-wilayah Iran dan Utsmani menjadi terbatas. Karena itu, pemasukan pemerintahan Utsmani menurun dari Sutra Persia.
6. Bangsa Portugal memanfaatkan konflik yang terjadi antara Dinasti Syafawiyah dengan dinasti Utsmani. Mereka berusaha melakukan blokade total terhadap lautan-lautan di sebelah timur dan menutup jalan-jalan lama yang menghubungkan antara timur dan barat.
7. Orang-orang Eropa bergembira atas peperangan-peperangan yang terjadi antara bangsa Turki dan kaum Syafawi. Orang-orang Eropa berusaha memberikan bantuan kepada kaum Syiah Syafawi dalam melawan Dinasti Utsmaniyah untuk melemahkannya, sehinga Turki Utsmani tidak mampu melanjutkan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Eropa.

Sumber: https://pss-sleman.co.id/