Permasalahan Dalam Industri Manufaktur

Home / Kesehatan / Permasalahan Dalam Industri Manufaktur

Permasalahan Dalam Industri Manufaktur

Permasalahan Dalam Industri Manufaktur

Secara umum, industry manufaktur di Negara-negara berkembang masih terbelakang jika dibandingkan dengan sector yang sama di Negara maju, walaupun di Negara-negara berkembanga ada Negara-negara yang industrinya sudah sangat maju.

Dalam kasus Indonesia, UNIDO (2000) dalam studinya mengelompokkan masalah yang dihadapi industry manufaktur nasional ke dalam 2 kategori, yaitu kelemahan yang bersifat structural dan yang bersifat organisasi.

I. Kelemahan-kelemahan structural di antaranya:

  1. Basis ekspor & pasar masih sempitè walaupun Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam & TK, tapi produk & pasarnya masih terkonsentrasi:
  2. terbatas pada empat produk (kayu lapis, pakaian jadi, tekstil & alas kaki)
  3. Pasar tekstil & pakaian jadi terbatas pada beberapa negara: USA, Kanada, Turki & Norwegia
  4. USA, Jepang & Singapura mengimpor 50% dari total ekspor tekstil & pakaian jadi dari Indonesia
  5. Produk penyumbang 80% dari ekspor manufaktur indonesia masih mudah terpengaruh oleh perubahan permintaan produk di pasar terbatas
  6. Banyak produk manufaktur terpilih padat karya mengalami penurunan harga muncul pesaing baru seperti cina & vietman
  7. Produk manufaktur tradisional menurun daya saingnya sbg akibat factor internal seperti tuntutan kenaikan upah
  8. Ketergantungan impor sangat tinggi

1990, Indonesia menarik banyak PMA untuk industri berteknologi tinggi seperti kimia, elektronik, otomotif, dsb, tapi masih proses penggabungan, pengepakan dan assembling dengan hasil:

  1. a)Nilai impor bahan baku, komponen & input perantara masih tinggi diatas 45%
  2. b)Industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi & kulit bergantung kepada impor bahan baku, komponen &  input perantara  masih tinggi.
  3. c)PMA sector manufaktur masih bergantung kepada suplai bahan baku & komponen dari LN
  4. d)Peralihan teknologi (teknikal, manajemen, pemasaran, pengembangan organisasi dan keterkaitan eksternal) dari PMA masih terbatas
  5. e)Pengembangan produk dengan merek sendiri dan pembangunan jaringan pemasaran masih terbatas
  6. Tidak ada industri berteknologi menengah
  7. a)Kontribusi industri berteknologi menengah (logam, karet, plastik, semen) terhadap pembangunan sektor industri manufaktur menurun tahun 1985 -1997.
  8. b)Kontribusi produk padat modal (material dari plastik, karet, pupuk, kertas, besi & baja) thd ekspor menurun 1985 – 997
  9. c)Produksi produk dg teknologi rendah berkembang pesat.
  10. Konsentrasi regional

Industri menengah & besar terkonsentrasi di Jawa.

  1. Kelemahan organisasi
  2. Industry skala kecil dan menengah (IKM) masih underdeveloped
  3. Konsentrasi pasar
  4. Lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan teknologi
  5. Lemahnya SDM

2.13 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Sektor Industri

  1. Strategi Subtitusi Impor (inward-looking)
  • Lebih menekankan pada pengembangan industry yang berorientasi pada pasar domestic
  • Strategi subtitusi impor adalah industry domestic yang membuat barang menggantikan impor
  • Dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai dengan mengembangkan industry dalam negeri yang memproduksi barang pengganti impor. Pertimbangan yang lazim digunakan dalam memilih strategi ini adalah:
  1. SDA dan factor produksi lain (terutama tenaga kerja) cukup tersedia
  2. Potensi permintaan dalam negeri memadai
  3. Pendorong perkembangan sector industry manufaktur dalam negeri
  4. Dengan perkembangan industry dalam negeri, kesempatan kerja lebih luas
  5. Dapat mengurangi ketergantungan impor

Sumber :

https://phpmag.net/samsung-galaxy-note-8-masuk-thailand-dan-malaysia/