Faktor-faktor Sosial Penyebab Kerusakan Hutan di Indonesi

Home / Umum / Faktor-faktor Sosial Penyebab Kerusakan Hutan di Indonesi

Faktor-faktor Sosial Penyebab Kerusakan Hutan di Indonesi

Faktor-faktor Sosial Penyebab Kerusakan Hutan di Indonesia

Faktor sosial merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan hutan yang dipengaruhi oleh manusia sebagai subjek atau pelaku yang secara spesifik terbentuk dalam situs komunitas dimana di dalamnya terdapat komponen-komponen tertentu seperti keluarga serta peran dan status sosial manusia. Menurut Sila & Nuraeni (2009), faktor -faktor sosial penyebab kerusakan hutan dapat dibedakan menjadi 4 bagian yaitu:

A. Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan merupakan faktor sosial dimana terjadi suatu peristiwa terbakarnya hutan baik alami maupun perbuatan manusia yang ditandai dengan penjalaran api dengan bebas serta mengkonsumsi bahan bakar hutan dan lahan yang dilewatinya (Adinugroho et al., 2004). Secara umum kebakaran hutan merupakan sumber kerusakan utama pada hutan produksi. Namun, hal ini tidak serta merta menimbulkan kerugian tetapi pada keadaan tertentu kebakaran hutan juga memberikan manfaat. Pengaruh kebakaran hutan secara khusus terdiri dari sub judul di bawah ini:
1. Tingkat Kerugian Pertahun

Dinas Kehutanan Amerika Serikat menunjukkan bahwa diantara tahun 1942-1946, jumlah luas areal hutan yang terbakar di Amerika Serikat kecuali Alaska adalah sekitar 169.355 acres. Seluas 74.423 acres kebakaran terjadi pada areal yang dilindungi atau diawasi oleh organisasi pemadam kebakaran. Sisanya kurang lebih 95.000 acres pertahun mengalami kebakaran di daerah yang tidak dilindungi. Terlihat bahwa pengelolaan kebakaran hutan dinegara ini tidak efektif dimana jumlah areal yang terbakar pada daerah yang dilindungi luasnya hanya 25 % lebih kecil dibanding dengan daerah yang tidak dilindungi. Luas daerah yang dilindungi selama lima tahun mendekati 498.000.000 acres, sedangkan areal yang tidak dilindungi sekitar 129.000.000 acres. Dari laporan tahunan didapatkan bahwa sekitar 42.000.000 acres luas hutan terbakar setiap tahunnya, dimana hanya sekitar 14 % dari kebakaran ini terjadi di atas areal yang dilindungi, sedangkan sisanya 86 % terjadi pada areal yang tidak dilindungi (Sila & Nuraeni, 2009).

Suatu hal penting yang perlu diingat bahwa salah satu pengaruh tidak langsung dari kebakaran hutan adalah kemungkinan timbulnya hama dan penyakit. Luka-luka yang terjadi serta lemahnya kondisi pohon sebagai akibat kebakaran hutan akan mempermudah serangga menyerang dan berkembang biak secara cepat sehingga menimbulkan kerusakan pohon yang lebih besar. Selanjutnya salah satu alasan mengapa kebakaran hutan dianggap perusak kedua dibanding perusak serangga, hal ini terutama karena sudah dikuasainya program pencegahan awal dari kebakaran dan dikuasainya program pencegahan awal dari kebakaran dan juga teknik pengendalian bilamana kebakaran terjadi (Sila & Nuraeni, 2009).
Sumber: https://galleta.co.id/komputer-bisa-deteksi-orientasi-seksual-seseorang/