Definisi Malnutrisi Energi Protein (MEP)

Home / Pendidikan / Definisi Malnutrisi Energi Protein (MEP)

Definisi Malnutrisi Energi Protein (MEP)

Definisi Malnutrisi Energi Protein (MEP)

Definisi Malnutrisi Energi Protein (MEP)

Malnutrisi Energi Protein (MEP) :  MEP disebut juga kekurangan energi protein (KEP) terjadi jika persediaan energi atau protein tidak mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh, sehingga akhirnya menimbulkan gangguan pada proses fisiologik yang normal.

Keadaan yang sering mengakibatkan terjadinya MEP, antara lain :

o   asupan makanan yang tidak memadai

o   peningkatan kebutuhan metabolic

o   peningkatan kehilangan zat gizi.

Klasifikasi dan Penilaian Malnutrisi Energi Protein :

MEP Primer ; asupan protein dan atau energi tidak memadai

MEP sekunder ; karena penyakit yang mengganggu asupan atau penggunaan zat gizi atau penyakit yang meningkatkan kebutuhan zat gizi. (keganasan, malabsorbsi usus, radang usus besar, AIDS, GGK)

Klasifikasi lain berupa pembagian berdasar berat ringannya PEM ; PEM ringan, sedang, berat.

2.2  Patogenesa dan etiologi kelebihan asupan energy dan protein

Kelebihan energi oleh tubuh akan diubah menjadi zat lemak yang kemudian disimpan sebagai jaringan lemak di bawah kulit dan juga di organ-organ lain. Kelebihan energi dapat terjadi sebagai akibat masukan energi yang berlebihan, penggunaan energi yang kurang atau kombinasi kedua hal tersebut.

Masukan energi yang berlebihan terdapat pada keadaan sbb :

–  gangguan emosional: dalam hal ini makanan merupakan penggnati untuk mencapai kepuasan dalam memperoleh kasih sayang dan ketentraman.

–  kelainan pada otak (hipotalamus dan hipofisis) yang mengakibatkan gangguan terhadap pusat rasa kenyang.

–  Kelebihan insulin.: Penggunaan kalori yang kurang dapat terjadi karena :

-aktivitas jasmani yang kurang

– hipotiroidisme, sindroma adreno-genital

Obesitas membahayakan kesehatan karena mempermudah terjadinya penyakit lain dan juga mempersulit penyembuhan beberapa penyakit seperti arthritis, hipertensi, dsb.

Gejala klinis :

– raut muka ; hidung dan mulut tampak relatif kecil dengan dagu ganda

-dada dan payudara ; bentuk payudara mirip payudara yangsudah tumbuh.

-Abdomen membuncit dan menggantung

– Lengan dan paha tampak besar, tangan relatif kecil

-Genital luar ; pada pria penis seakan terpendam, sehingga tampak kecil.

Hiperlipidemia: Gangguan metabolisme lemak yang menimbulkan peningkatan kadar lemak darah disebut sebagai hiperlipidemia.

Klasifikasi hiperlipidemia : Ada 2 jenis hiperlipidemia ditinjau dari sebabnya, yaitu ;

Hiperlipidemia primer: Ialah keadaan peningkatan kadar lemak darah yang tidak ada hubungannya dengan penyakit lain. Meleinkan herediter (genetik)

Hiperlipidemia sekunder: Hampir 40% gangguan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan kadar lemak merupakan hiperlipidemia sekunder.

Yang sering menimbulkan hiperlipidemia sekunder :  obesitas, alkoholisme (peminum alcohol),gangguan ginjal,  gangguan hati,diabetes mellitus,  iatrogenik (obat-obatan ; pil anti hamil, kortikosteroid jangka panjang), hipotiroidisme, feokromositoma

Gejala hiperlipidemia : Hiperlipidemia tidak menimbulkan gejala apapun sampai terjadi komplikasi penyakit jantung koroner yang melanjut sebagai infark miokard. Diagnosis hiperlipidemia lebih banyak ditemukan saat pemeriksaan rutin atau pada waktu cek-up sebagai syarat peserta asuransi. Jenis sekunder biasanya ditemukan setelah diketahui penyakit primernya.


Sumber: https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/kinemaster-pro-apk/