Islam Mengikis Arogansi Non-Muslim

Home / Pendidikan / Islam Mengikis Arogansi Non-Muslim

Islam Mengikis Arogansi Non-Muslim

Islam Mengikis Arogansi Non-Muslim

Islam Mengikis Arogansi Non-Muslim

Islam Mengikis Arogansi Non-Muslim

Selama negara ini menerapkan sistem sekuler dan abai terhadap sistem Islam, maka kondisinya akan tetap seperti ini. Potensi konflik berbau SARA akan terus ada, bahkan mungkin dengan intensitas yang makin meninggi oleh karena berbagai latar kepentingan ikut bermain.  Solusinya, negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini harus dikembalikan pada posisinya sebagai negeri Islam dengan diterapkannya syariah di bawah naungan daulah Khilafah. Jika Islam diterapkan di negeri ini, dan orang Kristen dan non Muslim lain bersedia menjadi Ahli Dzimmah, maka mereka harus diterikat dengan syarat-syarat dzimmah:

1-      Mereka wajib membayar jizyah, jika mampu dan tunduk kepada sistem Islam. Sebagaimana firman Allah SWT, “Hingga mereka membayar jizyah sesuai dengan kemampuan mereka, sedangkan mereka tunduk (pada Islam).” (Q.s. at-Taubah [09]: 29)

2-      Mereka wajib menerapkan hukum Islam, kecuali dalam urusan peribadatan, makan, minum, berpakaian, termasuk kawin dan talak. Sebagaimana sabda Nabi, “Siapa saja yang tetap dalam keyahudian dan kenasraniannya, maka dia tidak boleh dihasut (untuk memeluk Islam).” (Lihat, Ibn Hajar, Talhis al-Habir fi Ahadits ar-Rafii al-Kabir, IV/122)

3-      Selain kedua syarat di atas, negara bisa menetapkan syarat-syarat lain kepada mereka. Khalifah Abu Bakar mensyaratkan kepada Bazakhah, Asad dan Ghathafan agar mereka melucuti senjatanya. Khalifah ‘Umar bin al-Khatthab mensyaratkan Bani Tughlab untuk tidak mengkristenkan anak-anak mereka. Apa yang mereka dapatkan dari kaum Muslim, harus mereka kembalikan, tetapi tidak sebaliknya (H.r. al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, IX/335; Abu ‘Ubaid, al-Amwal, hal. 198). Bahkan, banyak di antara mereka yang mengajukan persyaratan agar bisa diterima menjadi Ahli Dzimmah, antara lain, tidak mendirikan gereja baru di kotanya, tidak mendirikan biara di sekitarnya, juga asrama pendeta. Tidak pula merenovasi gereja-gereja yang rusak, tidak juga menggunakannya untuk memata-matai kaum Muslim. Tidak melarang kaum Muslim singgah di malam atau siang hari di gereja. Mereka berjanji memperluas pintu untuk orang yang lewat dan Ibn Sabil. Tidak melindungi mata-mata di sana juga di rumah-rumah mereka. Tidak menyembunyikan orang yang menipu kaum Muslim. Tidak membunyi lonceng, kecuali dengan pukulan yang ringan di tengah-tengah gereja kami. Tidak menampakkan salib. Tidak pula mengeraskan suara ketika sembahyang maupun membaca bacaan di gereja, ketika ada orang Islam. Tidak mengeluarkan Salib dan Injil di pasar kaum Muslim. Tidak mengeraskan suara terhadap orang-orang yang mati. Tidak menghidupkan lilin di pasar-pasar kaum Muslim. Tidak memakan babi di dekat kaum Muslim. Tidak menjual khamer, tidak menunjukkan sikap syirik, tidak mengajak orang lain memeluk agama mereka. Tidak menghalangi keluarganya yang ingin memeluk Islam. Tidak menyerupai pakaian kaum Muslim, baik songkok, kafiyeh maupun sandal. Tidak bicara dengan menggunakan bahasa kaum Muslim. Tidak menggunakan sebutan kaum Muslim… (H.r. al-Baihaqi, Sunan al-Baiqahi, IX/202; Ibn Qudamah, al-Mughni, VIII/524)

Andai saja hukum Islam diterapkan di negeri ini, dan orang-orang non-Muslim menjadi Ahli Dzimmah dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas, maka arogansi yang mereka pertontonkan tidak akan terjadi. Kisruh pendirian gereja seperti saat ini pun tidak akan terjadi. Di sisi lain, Islam dan umatnya akan hidup mulia karena tidak ada satupun pihak yang berani menghinakan mereka.

Sumber : https://aldirenaldi.blog.institutpendidikan.ac.id/seva-mobil-bekas/