Perkembangan MDGs di Pulau Sulawesi

Home / Pendidikan / Perkembangan MDGs di Pulau Sulawesi

Perkembangan MDGs di Pulau Sulawesi

Perkembangan MDGs di Pulau Sulawesi

Perkembangan MDGs di Pulau Sulawesi

Perkembangan MDGs di Pulau Sulawesi

(21) Sulawesi Utara dan Gorontalo

Sulawesi Utara sejak tahun 2000 telah memekar menjadi Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo. Sebelum dimekarkan, Gorontalo merupakan suatu wilayah kabupaten di Sulawesi Utara.

Pada tahun 1993 persentase penduduk miskin di Sulawesi Utara mencapai 11,79 persen dan berada di bawah rata-rata nasional yang 13,67 persen. Setelah pemekaran pada tahun 2000, angka kemiskinan Sulawesi Utara menjadi 8,28 persen (peringkat ketiga terbaik), namun Gorontalo terpuruk dengan 24,04 persen penduduk miskin, jauh di bawah angka nasional (18,95 persen). Tahun 2006, angka kemiskinan Sulawesi Utara menjadi 14,51 persen dan masih di atas angka nasional yang 16,58 persen, sementara Gorontalo terpuruk lebih jauh ke peringkat ketiga terendah dengan penduduk miskin mencapai 31,54 persen.

Terkait angka kekurangan gizi balita, Sulawesi Utara menunjukkan kinerja yang baik antara tahun 1989-2000. Setelah provinsi ini dimekarkan, data tahun 2006 menunjukkan bahwa proporsi balita yang kekurangan gizi di Sulawesi Utara masih di atas angka nasional dan berperingkat kelima terbaik, yaitu 23,11 persen (dibandingkan dengan angka nasional yang sebesar 28,05 persen). Sementara itu, Gorontalo menjadi provinsi dengan peringkat terburuk. Proporsi balita kekurangan gizi di Gorontalo mencapai 41,48 persen.

APM SD/MI dan APM SLTP/MT/MTs merupakan indikator pencapaian target pendidikan dasar untuk semua. Meskipun menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2006 APM SD/MI Sulawesi Utara dan Gorontalo tidak berbeda jauh, yaitu masing-masing 90,4 persen dan 90,5 persen, dan keduanya masih di bawah angka nasional. Hal ini berarti perkembangan APM SD/MI di kedua provinsi lebih lamban dibandingkan laju peningkatan tingkat nasional. APM SLTP/MT/MTs Sulawesi Utara pada tahun 2006 adalah sebesar 66,0 persen, hanya sedikit di bawah rata-rata nasional (66,5 persen). Namun, APM SLTP/MT/MTs Gorontalo berada di peringkat ketiga terendah yaitu hanya sebesar 52,3 persen.

Kesetaraan gender antara lain ditunjukkan dengan indikator rasio APM murid perempuan terhadap murid laki-laki (P/L) di tingkat SD/MI dan SLTP/MT. APM P/L SD/MI Sulawesi Utara terus menurun selama kurun waktu 1992 sampai 2006—meskipun masih di atas angka nasional—yaitu dari sebesar 105,6 (1992), 100,8 (2000), dan turun menjadi 99,5 (2006). APM P/L SD/MI Gorontalo pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Utara, yaitu 101,4. Selain itu, APM P/L SLTP/MT Sulawesi Utara juga menunjukkan kecenderungan yang sama dengan APM P/L SD/MI yaitu menurun namun masih lebih baik dari angka nasional. APM P/L SLTP/MT Sulawesi Utara tahun 2006 hanya 109,5, meskipun tahun 1992 angka ini sempat menyentuh 123,8.

Partisipasi perempuan dalam pekerjaan upahan untuk kedua provinsi ini sangat baik, bahkan dapat dikatakan upah pekerja perempuan untuk pekerjaan yang sama lebih tinggi jika dibandingkan dengan upah pekerja laki-laki. Pada bulan Februari 2007, rasio upah pekerja perempuan terhadap pekerja laki-laki di Sulawesi Utara mencapai 110,2 dan di Gorontalo mencapai 115,6. Kedua provinsi ini merupakan dua provinsi berperingkat tertinggi jika dilihat dari sisi salah satu indikator kesetaraan gender ini.

Angka kematian bayi (AKB) Sulawesi Utara tahun 2005 sangat rendah, yaitu hanya 3 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menempatkan Sulawesi Utara pada ranking teratas AKB provinsi, sejajar dengan tiga provinsi lainnya yaitu Kepulauan Riau, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Kondisi ini sangat berlawanan dengan Gorontalo. AKB Gorontalo tahun 2005 mencapai 17 per 1.000 kelahiran hidup dan berada di peringkat kedua terburuk setelah Nusa Tenggara Barat. Angka kematian balita (AKBA) Sulawesi Utara juga sangat rendah jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. AKBA Sulawesi Utara tahun 2005 sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup, bersama-sama Kepulauan Riau dan DI Yogyakarta berada di bawah provinsi dengan AKBA terendah (DKI Jakarta). Tidak berbeda jauh dengan AKB-nya, AKBA Gorontalo masih sangat tinggi, yaitu 67 per 1.000 kelahiran hidup. Dari sisi AKBA, Gorontalo juga bertengger di peringkat kedua terburuk.

Sumber : https://obatwasirambeien.id/tips-memilih-jasa-penulisan-artikel/