Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

Home / Umum / Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Teori Visibilitas Hilal )

Teori Visibilitas Hilal terbaru sudah dibangun oleh para astronom dalam proyek pengamatan hilal international yang dikenal sebagai Islamic Crescent Observation Project (ICOP) berpusat di Yordania berdasar pada kira-kira 700 lebih knowledge observasi hilal yang diakui valid. Teori ini perlihatkan bahwa hilal hanya mungkin sanggup dirukyat kecuali jarak sudut Bulan dan Matahari sekurang-kurangnya 6,4° (sebelumnya 7°) yang dikenal sebagai “Limit Danjon”. Kurva Visibilitas Hilal sebagai hasil perhitungan teori tersebut mengindikasikan bahwa untuk wilayah kira-kira Katulistiwa (Indonesia) hilal baru mungkin sanggup dirukyat manfaatkan mata telanjang sekurang-kurangnya pada ketinggian di atas 6°. Di bawah itu sampai ketinggian di atas 4° diperlukan alat bantu penglihatan seperti teleskop dan sejenisnya.

Melihat wilayah Indonesia menurut peta visibilitas di atas sesuai bersama dengan teori visibilitas hilal maka semua wilayah Indonesia kemungkinannya sangat kecil hilal sanggup dirukyat pada hari rukyat atau hari pertama ijtimak sore setelah Matahari terbenam. Hilal baru mungkin sanggup dirukyat pada H+1 waktu ketinggiannya capai 13°. Sehingga menurut beberapa syarat ini awal bulan dapat jatuh pada:

Sabtu, 21 Juli 2012
Nahdlatul Ulama (NU) yang manfaatkan rukyat sebagai basic penentuan awal bulan tetap mengakui kesaksian rukyat asalkan ketinggiannya di atas batas imkanurrukyat 2° apalagi hanya bersama dengan mata telanjang. Sementara dalam penyusunan kalendernya NU manfaatkan beberapa syarat imkanurrukyat 2° tanpa syarat elongasi dan usia Hilal.

2. Menurut Kriteria Hisab Imkanur Rukyat
Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) memutuskan beberapa syarat yang disebut Imkanurrukyat yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang perlihatkan :
Hilal diakui keluar dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah seterusnya andaikan mencukupi tidak benar satu beberapa syarat berikut:
(1)· Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang berasal dari 2° dan
(2). Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang berasal dari 3°. Atau
(3)· Ketika Bulan terbenam, usia Bulan tidak kurang berasal dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.
Kriteria inilah yang menjadi pedoman Pemerintah RI untuk menyusun kalender Taqwim Standard Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional secara resmi. Dengan beberapa syarat ini pula ketetapan Sidang Isbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah “bisa ditebak hasilnya”. Ormas Persatuan Islam (Persis) belakangan sudah mengadopsi beberapa syarat ini sebagai basic penetapan awal bulannya. Belakangan beberapa syarat ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia waktu Singapura manfaatkan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam manfaatkan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.
Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi sehingga awal bulan jatuh pada :
Sabtu, 21 Juli 2012
3. Menurut Kriteria Hisab Wujudul Hilal
Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) manfaatkan beberapa syarat yang dinamakan “Hisab Hakiki Wujudul Hilal”. Kriteria ini perlihatkan bahwa awal bulan Hijriyah di awali andaikan sudah terpenuhi tiga beberapa syarat berikut:
1) sudah terjadi ijtimak (konjungsi),
2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
3) pada waktu terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru sudah wujud). Ketiga beberapa syarat ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya perlu terpenuhi sekaligus. Apabila tidak benar satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya sanggup diterjemahkan sebagai berikut:
“Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa memandang berapapun sudut ketinggian Bulan waktu Matahari terbenam”.
Berdasarkan posisi hilal waktu matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka baru pada 28 Sepetember 2011 syarat wujudul hilal sudah terpenuhi. sehingga awal bulan ditetapkan jatuh pada :
Jumat, 20 Juli 2012

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global
Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan berasal dari Komite Mawaqit berasal dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga kerap disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun beberapa syarat yang digunakan selalu mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).
Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur walau hanya bagian selatan Afrika yang sudah masuk dalam beberapa syarat Limit Danjon. Dengan demikianlah awal bulan di masing-masing zona dapat jatuh pada :
Zona Timur : Jumat, 20 Juli 2012
Zona Barat : Jumat, 20 Juli 2012

5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Arab Saudi

Kurangnya pengetahuan tentang astronomi yang dimiliki oleh para perukyat kerap menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi pada object yang disebut “Hilal”. Klaim pada kenampakan hilal perukyat pada waktu hilal tetap berada di bawah “limit visibilitas” atau apalagi waktu hilal sudah di bawah ufuk kerap terjadi. Sudah bukan berita baru kembali bahwa Saudi kerap kali lakukan istbat pada laporan rukyat yang “mustahil”.
Saudi memiliki kalender resmi yang dinamakan kalender Ummul Qura. Kalender ini sudah berkali-kali mengganti kriterianya dan diperuntukkan sebagai kalender untuk keperluan non ibadah. Sementara untuk keperluan ibadah terutama penetapan awal dan akhir Ramadhan serta awal Zulhijjah Saudi selalu manfaatkan rukyat hilal sebagai basic penetapannya. Sayangnya penetapan ini kerap hanya berdasarkan pada laporan rukyat berasal dari seseorang tanpa terutama dahulu lakukan klarifikasi dan konfirmasi pada kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai bersama dengan kaidah-kaidah sains astronomi terutama Teori Visibilitas Hilal. Dan sudah sanggup ditebak kecuali laporan rukyat tetap sesuai Kalender Ummul Qura maka diakui sah.

Diagram ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak.

Menurut Kalender Ummul Qura Saudi :
Kalender ini digunakan Saudi bagi keperluan publik non-ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah mencukupi syarat. Dengan demikianlah awal bulan jatuh pada : Jumat, 20 Juli 2012

Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :
Rukyatul hilal digunakan Saudi spesifik untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya simple “Jika tersedia laporan rukyat berasal dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang diakui jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai basic untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilaksanakan uji sains pada kebenaran laporan tersebut”.
Berdasarkan kalender Ummul Qura, rukyat di Saudi dilaksanakan pada Kamis, 19 Juni 2012. Namun memandang posisi dan kedudukan hilal waktu itu secara sains kemungkinannya sangat kecil hilal sanggup dirukyat di Saudi pada hari pelaksanaan rukyat tersebut. Namun demikianlah sanggup dipastikan dapat tersedia yang mengaku berhasil rukyat sehingga awal bulan dapat jatuh pada : Jumat, 20 Juli 2012.
Namun kecuali ternyata tidak tersedia laporan rukyat berhasil seperti seharusnya, maka awal bulan dapat jatuh pada: Sabtu, 21 Juli 2012.

6. Kriteria Awal Bulan Negara-negara Lain

Seperti kami ketahui secara resmi Indonesia bersama dengan Malaysia, Brunei dan Singapura melalui pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) sudah menyepakati sebuah beberapa syarat bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal bersama dengan “Kriteria Imkanurrukyat MABIMS” yakni usia bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata beberapa syarat ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia saja. Sementara Singapura manfaatkan Wujudul hilal dan Brunei Darussalam manfaatkan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas. Namun berdasarakan pertemuan Penyelelarasan Rukyat dan Taqwim MABIMS di Bali pada 27-29 Juni 2012 lalu Indonesia, Malaysia, Singapuran dan Brunei diperkirakan dapat memulai Ramadhan secara serentak pada Sabtu, 21 juli 2012.
Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di masing-masing negara. Ada yang tetap teguh mempertahankan rukyatul hilal bil fi’li tersedia pula yang jadi berubah manfaatkan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :
Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat (Qadi) serta dilaksanakan pengkajian kembali pada hasil rukyat secara ilmiah pada lain dilaksanakan oleh negara-negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam.

Artikel Lainnya : blackpink members

Hisab bersama dengan beberapa syarat bulan terbenam setelah Matahari bersama dengan di awali ijtimak terutama dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura tetapi spesifik untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah manfaatkan pedoman rukyat.
Mengikuti Saudi Arabia andaikan negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.
Hisab bulan terbenam sekurang-kurangnya 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak digunakan oleh negara Mesir.
Menunggu berita berasal dari negeri tetangga –> diadopsi oleh Selandia Baru mengikuti Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.
Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat –> Kepulauan Karibia
Hisab bersama dengan beberapa syarat usia bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari –> diadopsi oleh Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia.
Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar diadopsi oleh negara Libya.
Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah –> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa (ISNA)
Nigeria dan beberapa negara lain tidak selalu manfaatkan satu beberapa syarat dan bergeser berasal dari tahun ke tahun
Menggunakan Rukyat Mata Telanjang : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.
Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah, serta beberapa jamaah (tarekat) lainnya tetap manfaatkan hisab urfi yang benar-benar sederhana.

Baca Juga :