HASIL MUSYAWARAH NASIONAL HISAB RUKYAT PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

Home / Umum / HASIL MUSYAWARAH NASIONAL HISAB RUKYAT PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

HASIL MUSYAWARAH NASIONAL HISAB RUKYAT PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

HASIL MUSYAWARAH NASIONAL HISAB RUKYAT PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

Alhamdulillah, Musyawarah Nasional Hisab Rukyat (Penentuan Awal Bulan Qamariyah) Rabu 25 April 2012 di Kementerian Agama berhasil merumuskan kesepakatan untuk mewujudkan kalender Islam tunggal bersama dengan syarat-syarat bersama dengan yang disepakati. Musyawarah yang dihadiri 60 perwakilan ormas Islam, pondok pesantren semua Indonesia, dan para pakar hisab rukyat dari instansi perihal dibuka oleh Menteri Agama (H. Suryadharma Ali) dan ditutup oleh Wakil Menteri Agama (Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA).

Pembicara adalah MUI, perwakilan ormas Islam (NU dan Muhamadiyah), dan pakar astronomi (ITB dan Planetarium). MUI diwakili KH. Ma’ruf Amin. NU diwakili oleh KH. A. Ghozali Masyroeri (Lajnah Falakiyah PBNU) dan KH Saifudin Amsir (Rois Syuriah PBNU). Muhammadiyah diwakili DR. H.M. Ma’rifat Iman KH, MAg (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah) dan Dr. Abdul Fattah Wibisono (Ketua PP Muhammadiyah).
Ini tunjukkan keseriusan dan prinsip bersama dengan untuk merampungkan perbedaan dan mewujudkan persatuan ummat. Diskusi terjadi konstruktif, bukan mencari perbedaan, namun mencari titik temu. NU yang cenderung fleksibel untuk berubah mengajak untuk studi bersama dengan meningkatkan kekuatan hisab rukyat. Muhammadiyah pun tawarkan opsi untuk merumuskan syarat-syarat pemilihan awal bulan Ramadhan dan Syawal yang disepakati seperti yang diminta di dalam fatwa MUI tahun 2004. Semangat untuk bersatu terlihat jelas.
Langkah kongkret yang segera diwujudkan adalah membentuk tim kecil kajian perumusan syarat-syarat bersama dengan itu, sekaligus sebagai tindaklanjut kesepakatan NU-Muhammadiyah tahun 2007 lalu, bersama dengan tim kajian yang lebih luas melibatkan pakar hisab-rukyat dari ormas dan instansi lainnya. Mari kita dorong untuk mewujudkannya.
Berikut ini rumusan hasil Munas Hisab Rukyat 25 April 2012:

HASIL MUSYAWARAH NASIONAL HISAB RUKYAT
PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH
Musyawarah Nasional Hisab dan Rukyat yang diselenggarakan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerjasama bersama dengan Dirjen Bimas Islam bertempat di Operation Room Lantai 3 Gedung Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta, terhadap hari Rabu tanggal 25 April 2012 M / 3 Jumadal Akhirah 1433 H, yang dihadiri oleh ulama, pakar, perwakilan pemerintah (Kementerian Agama) dan perwakilan ormas keagamaan menghasilkan rumusan sebagai tersebut :
Ada kesadaran bahwa keseragaman takwim Islam Indonesia (untuk pemilihan awal bulan Qamariyah tak hanya awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah) adalah sebuah keperluan bersama dengan yang perwujudannya butuh proses untuk mendekatkan pandangan dan metode yang bisa disepakati bersama.
Untuk menuju kesatuan penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah dibutuhkan 3 prasyarat yang wajib dipenuhi, yaitu: 1) perlindungan dan pernyataan otoritas kepada instansi tertentu (MUI sejauh ini menambahkan otoritas tersebut kepada Kementerian Agama RI); 2) ada syarat-syarat yang disepakati; dan 3) ada lokasi pemberlakuan hukum;
Sejauh ini belum tersedia kesepakatan butir kedua, yakni tentang syarat-syarat awal bulan qomariyah. Untuk menuju ke sana, pihak-pihak yang datang di dalam forum setuju untuk membentuk tim kecil perumus syarat-syarat yang terdiri dari perwakilan pakar hisab rukyat ormas dan instansi terkait, bersama dengan difasilitasi oleh Kementerian Agama dan supervisi pimpinan ormas.
Untuk menindaklanjuti kesibukan ini, Munas ini mengamanatkan beberapa langkah konkrit sebagai berikut:
Merevitalisasi badan yang sepanjang ini menanggulangi hisab dan rukyat (BHR) supaya lebih legitimated supaya keputusannya mempunyai kekuatan kuncir kepada ormas yang diwakilinya.
Melakukan tindak lanjut kajian secara intensif untuk lakukan usaha pendekatan di lokasi pandangan dan metode supaya tercapai satu syarat-syarat bersama dengan bersama dengan melibatkan pakar dan fuqoha.
Melakukan penelitian observasi hilal secara kontinyu untuk kepentingan syarat-syarat penetapan awal bulan qomariyah.
Mengadakan musyawarah bersama dengan secara intensif untuk menetapkan Takwim secara musyawarah mufakat.
Selama kesatuan takwim itu belum tercapai, semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk melindungi kemaslahatan umat bersama dengan mengutamakan toleransi.
Kepada perwakilan-perwakilan ormas diminta bisa mempunyai pesan usaha penyatuan Takwim Islam Indonesia ini di dalam forum pengambilan ketetapan hukum tertinggi di tiap-tiap ormas.
Perlu memperbanyak frekuensi dialog/silaturahmi antar pimpinan/tokoh ormas yang bisa difasilitasi Kementerian Agama.
Perlu lakukan kaderisasi bersama dengan antar ormas untuk mendalami kompetensi Astronomi.
Membuat kalender Islam tunggal yang disepakati antar ormas Islam.

Baca Juga :