Banyuwangi Cetuskan Wisata Buku bagi Milenial

Home / Pendidikan / Banyuwangi Cetuskan Wisata Buku bagi Milenial

Banyuwangi Cetuskan Wisata Buku bagi Milenial

Banyuwangi Cetuskan Wisata Buku bagi Milenial

Banyuwangi Cetuskan Wisata Buku bagi Milenial

Banyuwangi Cetuskan Wisata Buku bagi Milenial

Di era derasnya arus teknologi informasi seperti saat ini, butuh langkah out of the box untuk membuat generasi milenial gembar membaca buku atau berkunjung ke perpustakaan. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mencetuskan agar perpustakaan bisa didirikan di tempat-tempat wisata.

Anas mengatakan anak-muda saat ini tidak bisa dilepaskan dari ketergantungannya pada media telepon seluler yang terkoneksi internet. Hal ini tidak bisa dihindari, tapi justru stake holder terkait harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
Baca Juga:

Empat Kabupaten Adopsi Inovasi Banyuwangi
Ribuan Pelajar dan Guru se-Indonesia Meneliti Banyuwangi
Banyuwangi Sabet Penghargaan WTN Tanpa Catatan
Papua Barat Berguru Ilmu Pembangunan di Banyuwangi
Pemkab Banyuwangi Terima Penghargaan dari BPJS Ketenagakerjaan

“Sekarang eranya sudah berubah, anak-anak maunya baca di handphone,

maka digitalisasi buku menjadi salah satu cara. Tapi ini belum cukup, perlu langkah yang out of the box agar perpustakaan mampu menarik perhatian pembaca mudanya,” ujar Bupati Anas, dalam Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca, di Pendopo Banyuwangi, kerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Senin (2/10/2019).

Anas mengusulkan agar perpustakaan bisa dibangun di pusat-pusat wisata. Karena saat ini travelling menjadi salah satu kebutuhan utama kaum milenial.

“Jadi bukan hanya buku-bukunya saja yang baru tapi tempat membacanya juga baru.

Bisa dibranding image berwisata sambil membaca buku. Ini kan cukup keren, karena kalau perpustaakan di tengah kota itu sudah biasa meskipun tetap penting juga keberadaannya,” terangnya.

Anas mengatakan meningkatkan minat baca pada generasi muda, menjadi agenda penting di tengah gempuran teknologi informasi yang terus berkembang.

“Tingkat literasi negara kita termasuk rendah dibandingkan negara tetangga

seperti Singapura atau Malaysia. Ini bukan hanya pekerjaan rumah bagi pemerintah pusat ataupun daerah, tapi butuh keterlibatan semua pihak untuk menumbuhkan minat baca anak,” kata Anas.

Anas juga mendorong perpustakaan nasional bisa menerbitkan buku-buku berbasis potensi lokal yang bisa menjadi referensi internasional. Misalnya Banyuwangi yang memiliki potensi budaya dan alam begitu kaya, mulai situs geopark nasional hingga cagar biosfer dunia.

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/majapahit/