Tingkatkan Pendidikan Karakter, Geber Sosialisasi Jabar Masagi di Tanah Pasundan

Home / Pendidikan / Tingkatkan Pendidikan Karakter, Geber Sosialisasi Jabar Masagi di Tanah Pasundan

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Geber Sosialisasi Jabar Masagi di Tanah Pasundan

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Geber Sosialisasi Jabar Masagi di Tanah Pasundan

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Geber Sosialisasi Jabar Masagi di Tanah Pasundan

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Geber Sosialisasi Jabar Masagi di Tanah Pasundan

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil meluncurkan Jabar Masagi pada 5 Desember lalu di Cirebon.

Program pendidikan karakter ini bukan sekadar janji politik.

Lebih dari itu, untuk membentengi masyarakat Jawa Barat dengan nilai-nilai baik yang selaras dengan cita-cita Jabar Juara Lahir Batin. Agar masyarakat Jawa Barat khususnya di dunia pendidikan bisa mengetahuinya, maka dilakukan sosialisasi.

Salah satunya, di wilayah Pasudan berlokasi di Hotel Grand Prioritas, Cisarua, Senin (10/12/2018). Kegiatan ini diikuti peserta dari Kota dan Kabupaten Bogor, Depok, Sukabumi, dan Cianjur.

Diharapkan mereka yang ikut terlibat bisa menyebarluaskan program tersebut.

Sosialisasi ini untuk lebih mempersiapkan peserta pada saat pelatihan dan penandampingan Jabar Masagi pada Maret 2019 mendatang.

Mereka yang ikut dalam kegiatan tersebut, yakni stakeholder di dunia pendidikan, seperti OSIS, guru dan tata usaha, kepala sekolah, komite, MKSS, dan ASN yang terkait.

“Sebelum pelatihan dan pendampingan untuk program Jabar Masagi, kami lakukan sosialisasi,” terang Kompetensi Sosial Kepribadian, yang juga narasumber sosialisasi, Simon Rafael kepada Radar Bogor, Senin (10/12/2018).

Masagi adalah filosofi Sunda yang singkat-padat. Tapi memiliki makna yang mendalam,

Jelema Masagi artinya orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan.

Masagi berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi. Grand desain Jabar Masagi menekankan pada nilai pendidikan karakter. Mengembalikan pendidikan budi pekerti yang bisa berdampak pada akhlak sosial yang mengandung keluhuran nilai-nilai kearifan lokal.

Tentunya yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks budaya dari masing-masing wilayah di Jawa Barat. Ini sebagai pijakan jati diri dengan keterampilan abad 21 untuk kemajuan generasi muda Jawa Barat ke depan.

Dalam Jabar Masagi, tiap budaya lokal dihargai setara bukan untuk digantikan atau menggantikan. Tapi, satu sama lain hadir untuk saling melengkapi.

Keragaman budaya lokal adalah kekuatan dari Jawa Barat. Dapat mengakomodir tiga budaya di tiga wilayah. Yakni Sunda Priangan, Cirebonan, dan Betawi.

Ia mengungkapkan, filosofi Masagi yaitu bagaimana berproses menjadi manusia yang memiliki pribadi yang kokoh, ajeg atau seimbang dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Jabar Masagi menjadikan budaya lokal yang beragam sebagai pondasi yang harus diletakan di awal.
Hal tersebut dilakukan karena menyangkut identitas dan warisan sejarah yang melekat pada kearifan lokal di masing-masing wilayah.

Bahkan dengan kearifan lokal, lebih cepat diterima. Hal yang menjadi fokus yakni membangun manusia, bukan programnya.
Jabar Masagi adalah menumbuhkan manusia Masagi Jawa Barat untuk belajar merasakan (surti/rasa), belajar memahami (harti/karsa), belajar melakukan (bukti/karsa), belajar hidup bersama (bakti/dumadi nyata) untuk melayani.

Implementasi kurikulum program Jabar Masagi adalah seluruh program praktik baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang mampu menumbuhkan generasi muda di Jawa Barat sebagai manusia berbudaya yang memiliki kemampuan untuk bisa belajar merasakan (surti), belajar memahami (harti), belajar melakukan (bukti), belajar hidup bersama (bakti).

Penerapan program Jabar Masagi tidak akan menyulitkan guru dalam kurikulum karena kuncinya adalah kemauan untuk menyentuh hati siswa, karena perubahan perilaku terjadi ketika hatinya tersentuh.

Jadi Jabar Masagi pada prinsipnya sejalan dengan penguatan pendidikan karakter (PPK) dan kurikulum 2013. jabara Masagi juga cara untuk memasyarakatkan pendidikan karakter dalam konteks mulok budaya lokal. Sebagai akar untuk mengusu ruh pendidikan karakter agar tidak tercabut dari akarnya.(mer/c)

 

Baca Juga :