Pengorbanan Seorang Nabiyullah

Home / Pendidikan / Pengorbanan Seorang Nabiyullah

Pengorbanan Seorang Nabiyullah

Pengorbanan Seorang Nabiyullah

Nabi Ibrahim a.s adalah seorang utusan Allah SWT yang taat dan hanif. Berkali-kali ia diuji oleh Allah SWT dengan cobaan yang tiada seorang pun bisa melaluinya. Namun, ia memperlihatkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT di atas segalanya hingga dia berhasil meniti ujian demi ujian dengan gemilang.

Ujian berat pertama yang perlu di lewati Ibrahim a.s adalah saat anak yang udah lama ia ingin perlu berpisah dengannya. Bayi mungil itu bernama Ismail. Ia lahir berasal dari istri Ibrahim a.s yang bernama Siti Hajar r.a.

Belum lama Ibrahim a.s nikmati standing barunya sebagai ayah, ia menerima perintah berasal dari Allah SWT untuk membawa putranya yang tetap merah dengan Siti Hajar ke sebuah daerah yang serupa sekali belum diketahuinya.

Padahal, selagi itu ia tengah merasakan masa-masa suka menimang Ismail mungil. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain bagi Ibrahim a.s selain menaati perintah-Nya. Diajaklah Siti Hajar r.a dan Ismail dalam buaiannya menuju daerah yang diperintahkan. Sebuah awan besar mengiringi perjalalanan mereka.

Awan besar itu berhenti di sebuah daerah yang gersang dan tandus. Hanya sebatang pohon besar yang menaungi mereka. Di sanalah Nabi Ibrahim perlu meninggalkan istri dan anak tercintanya. Bayangkan bagaimana perasaan seorang bapak saat perlu meninggalkan keluarganya di daerah yang tak berpenghuni layaknya itu.

Ibrahim a.s. menghendaki supaya sang istri dengan Ismail mungil selamanya di daerah itu dan tidak ikuti kepergiannya. Ibrahim a.s. membekali mereka dengan segantang kurma dan sekantung wadah memuat air. Ketika Ibrahim a.s beranjak hendak meninggalkan mereka berdua, Hajar r.a menarik pakaian suaminya supaya tidak pergi seraya berkata, “Suamiku, ke mana kau hendak pergi? Apakah kau hendak meninggalkan kami di daerah yang tidak ada sesuatu pun di sini?”

Ibrahim a.s diam membisu dan melepaskan pegangan sang istri sambil berlalu. Ia konsisten melangkah meninggalkan sang istri dan putra yang terlalu dicintainya.

Siti Hajar r.a kembali memanggil dan bertanya, “Ayahanda Ismail, apakah kau hendak meninggalkan kami di daerah yang tidak ada sesuatu pun di sini?”

Panggilan kedua sang istri tercinta selamanya tidak menyurutkan langkah Ibrahim a.s. Padahal, maksud Hajar memanggil dengan perkataan ‘Ayahanda Ismail’ adalah untuk mengingatkan bahwa yang bakal Ibrahim a.s tinggalkan adalah anak semata wayangnya, Ismail, yang tetap merah dan lemah dan terlalu dinantikan kelahirannya. Namun, sang bapak selamanya tidak bergeming.

Ketiga kalinya sang istri memanggil dengan agak keras, “Ibrahim! Apakah kau tega meninggalkan kami di daerah yang tidak ada sesuatu pun di sini?”
Kesabaran Hajar r.a kemungkinan udah hingga pada puncaknya saat menyaksikan sikap suaminya yang konsisten membisu dan tidak memedulikan mereka berdua hingga ia memanggil sang suami dengan menyebut namanya.

Ia serius mengharap suatu jawaban mengapa suami yang terlalu pengasih pada keluarganya kini tega meninggalkan ia dan putranya yang tak berdaya di sebuah daerah tak berpenghuni. Namun, apa yang diinginkan tidak terjadi, jangankan Ibrahim a.s berhenti, menoleh pun tidak.

Melihat sang suami tidak menggubris panggilannya, Siti Hajar r.a langsung mengetahui bahwa suaminya tidak bakal kemungkinan berbuat demikian kalau atas perintah Allah SWT.

Siti Hajar r.a kembali melunakkan suaranya dan memanggil, ” Nabiyullah, apakah ini perintah Allah?”

Pertanyaan berikut membawa dampak Ibrahim a.s berhenti sejenak, sesudah itu mengangguk isyarat mengiyakan dugaan istrinya. Mengetahui hal itu, Siti Hajar r.a langsung berseru, “Suamiku, kalau ini perintah Allah maka pergilah! Kami tidak bakal tersia-siakan selagi Allah dengan kami!”

Ibrahim a.s pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Sebagai seseorang yang lembut dan pengasih, tentu tidak gampang meninggalkan dua manusia lemah yang tetap memerlukan bantuan dan kasih sayangnya di sebuah padang yang gersang.

Jika bukan dikarenakan keimanan yang kuat kepada Allah SWT dalam melaksanakan amanah yang diturunkan kepadanya, ia tidak bakal bisa melakukannya.

Lalu, Ibrahim a.s. mengangkat kedua tangannya seraya berdoa kepada Allah SWT untuk keselamatan istri dan anaknya tercinta, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan, sebetulnya saya udah memasang beberapa keturunanku di lembah yang tidak membawa tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) supaya mereka metoksanakan shalat maka jadikanlah hati beberapa manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berasal dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 37)

Dua hari berlalu dan perbekalan habis, begitu juga air susu sang bunda udah jadi kering untuk sang bayi. la sendiri merasa kehausan di tengah padang tandus yang terik. Bayi Ismail berteriak menangis keras supaya sang bunda senang melepaskan dahaganya. Namun, apa energi dikarenakan air susu udah kering dan sang bunda pun didera rasa haus yang sangat.

Siti Hajar menyaksikan Bukit Shafa tinggi menjulang. Mungkin berasal dari sana, kemungkinan ada mata air yang bisa disita untuk melepaskan dahaga atau seseorang yang bisa dimintai pertolongan.

Akhirnya, Hajar r.a membaringkan Ismail yang konsisten menangis untuk melacak setetes air. Ia kuatkan hatinya dan berlari kecil menaiki Bukit Shafa. Di puncak Bukit Shafa, terik matahari makin garang menerpa wajah lelahnya. Ia lindungi matanya dengan tangan supaya tidak silau dan lebih mengetahui menyaksikan sekelilingnya.

Namun, sejauh mata memandang, ia tidak menyaksikan sumber air, kafilah, atau apa pun yang bisa membantunya. Yang ia menyaksikan cuma sang jabang bayi yang konsisten menangis berasal dari kejauhan. Ia langsung menuruni Bukit Shafa.

Namun, di lembah antara dua bukit tersebut, Hajar r.a tidak bisa memantau putranya. Kemudian ia langsung naik ke atas Bukit Marwah yang bersebelahan dengan Bukit Shafa. Selanjutnya, ia kembali mengamati sekitarnya. Tidak ada apa-apa yang terlihat kalau cuma bayi mungil dan semilir angin yang membawa debu kering menyapu padang tandus yang sepi dan gersang.

Khawatir dengan sang jabang bayi, Hajar r.a turun berasal dari Bukit Marwah untuk menengok situasi buah hatinya. Ismail tetap menangis. Dengan konsisten berharap, sang bunda kembali naik ke Bukit Shafa. Sama layaknya semula, tidak ada hal baru yang bisa menolongnya.

Ia kembali menuruni Bukit Shafa dan kembali naik ke Bukit Marwah. Dari atas sana, cuma kesunyian yang membentang di hadapannya. Namun, ia selamanya yakin bakal bantuan Allah, lalu ia melaksanakan hal yang serupa, yakni menaiki dan menuruni Bukit Shafa dan Marwah.

Setelah tujuh kali Hajar r.a berlari menaiki dan menuruni kedua bukit tersebut, ia kembali menengok Ismail yang makin melemah. Kemudian ia terduduk lelah di sisi sang buah hati. Sungguh tak tega mendengar suara tangisan bayinya yang makin lemas dan serak menghambat haus. Saat itulah rahmat Allah SWT tercurah kepada mereka. Sebuah mata air menyembur deras pas di daerah Ismail menghentakkan kakinya.

Rasa syukur dan suka yang luar biasa membuncah saat menyaksikan percikan air di bawah kaki putra tercintanya. Kemudian ia langsung menciduk air berikut dengan tangannya dan meneteskan ke dalam mulut Ismail. la juga meraup air penuh berkah berikut untuk diminumnya.

Subhanallah, sungguh kenikmatan yang luar biasa. Dahaga dan lelah musnah udah saat air bening yang segar mengalir lewat kerongkongannya yang udah lama kering.

Ujian berasal dari Allah SWT berakhir indah. Sumber air berikut menjadi daerah persinggahan kafilah-kafilah yang tengah melaksanakan perjalanan. Lama-kelamaan terbentuklah perkampungan di kira-kira mata air tersebut. Sumber air itu tenar dengan nama ‘zamzam’ hingga kini.

Sumber : tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :