Ketaatan Anak Saleh

Home / Pendidikan / Ketaatan Anak Saleh

Ketaatan Anak Saleh

Table of Contents

Ketaatan Anak Saleh

Ismail a.s tumbuh jadi remaja yang tampan. Di usianya yang masih belia, tampak kelembutan hati dan kebijaksanaan terpancar dari wajahnya. Saat-saat bahagia ia rasakan disaat Allah SWT mempertemukan kembali bersama ayahnya yang sudah terpisah sepanjang bertahun-tahun.

Meskipun memang perihal itu bukan niat sang papa untuk meninggalkan Ismail bayi dan sang istri di sebuah padang gersang dan tandus di jaman lampau. Justru terhadap kala itu hati Ibrahim a.s sedang terpaut cinta yang didalam kepada putra semata wayangnya tersebut.

Kini papa dan anak dipersatukan kembali oleh Allah. Ismail a.s merasakan kembali curahan cinta dan kasih sayang seorang ayah. Akan tetapi, belum lama mereka membiarkan rindu dan kasih sayang, Allah SWT menurunkan perintah selanjutnya.

Ibrahim a.s bermimpi menyembelih putra semata wayangnya yang begitu ia cintai. Tentu saja mimpi itu membuatnya bimbang dikarenakan papa mana yang tega membunuh putra tercintanya. Benarkah mimpi itu datang dari Allah SWT atau cuman tipu energi setan terkutuk?

Ketika Allah SWT meyakinkan bahwa mimpi itu benar dan itu adalah perintah yang mesti dijalankan, tanpa bertanya kembali Ibrahim a.s segera mematuhinya. Ibrahim a.s mengemukakan perintah Allah SWT ini kepada putranya, Ismail.

Dialog antara mereka berdua ini diabadikan didalam Al-Qur’an, “Maka disaat anak itu sampai (pada umur) mampu berupaya bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungsuhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau dapat mendapatiku terhitung orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffat [37]: 102)

Subhanallah, kecintaan mereka kepada Allah SWT melahirkan ketaatan yang tulus dan murni. Ismail a.s tanpa ragu siap mempertaruhkan nyawanya terkecuali memang itu yang diharapkan Allah SWT.

Keduanya beranjak ke sebuah area untuk laksanakan perintah Allah SWT itu. Ibrahim a.s menatap putranya untuk terakhir kali. Ismail merebahkan tubuhnya bersama wajah menghadap ke tanah. Dalam posisi tersebut, sang papa tidak dapat menyaksikan wajah anaknya yang kesakitan, tetapi bagi Ismail, ia tidak dapat menyaksikan prosesi penyembelihan dirinya.

Tatkala pisau dapat ditebaskan di leher Ismail, Allah SWT mempunyai rancangan lain. Atas kehendak-Nya, Ismail diganti bersama seekor domba yang besar. Kesabaran mereka sungguh terlampau teruji. Mereka terlampau mampu laksanakan perintah Allah bersama penuh kesabaran.

Selanjutnya Allah SWT mengabarkan kisah mereka didalam Al-Qur’an, “Maka disaat keduanya sudah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk laksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! sungguh, engkau sudah membetulkan mimpi itu.” Sungguh, demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini terlampau suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu bersama seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, “Selamat sejahtera bagj Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ash-Shaffat [37]: 103-110)

Baca Juga :