Menristekdikti: 965 Startup Teknologi Masuk ke Industri

Home / Pendidikan / Menristekdikti: 965 Startup Teknologi Masuk ke Industri

Menristekdikti: 965 Startup Teknologi Masuk ke Industri

Menristekdikti: 965 Startup Teknologi Masuk ke Industri

Menristekdikti 965 Startup Teknologi Masuk ke Industri

Menristekdikti 965 Startup Teknologi Masuk ke Industri

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendorong riset bisa masuk ke industri. Saat ini, kemunculan usaha pemula atau startup menjadi primadona. Tercatat, sebanyak 965 startup sudah masuk industri skala kecil, menengah hingga besar.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan,

riset perlu terus didorong sehingga hasilnya masuk ke industri. Anak-anak muda pun didorong untuk gemar meneliti.

“Program pemerintah melalui nawacita ke-6 memberikan tekanan khusus pada penguatan daya saing. Kemristekdikti menerjemahkan misi itu ke dalam penyatuan komponen kegiatan riset teknologi dan pendidikan tinggi yang melahirkan riset-riset yang inovatif,” katanya di sela-sela pembukaan Indonesia Science Expo 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Tangerang, Kamis (1/11).

Menurutnya, riset yang selama ini dilakukan di Indonesia sebelum pemerintahan Presiden Joko Widodo

selalu berada di rangking 4 di Asia Tenggara, di bawah Thailand, Singapura dan Malaysia. Indonesia saat itu sebelum 2014, ada 5.250 riset yang dipublikasi di internasional. Sementara, Thailand 9.500, Singapura 18.000 dan Malaysia 28.000.

Sesuai dengan kebijakan dan arahan dari Presiden, riset harus disederhanakan di dalam pertanggungjawaban dan dihilirisasi pada industri. Terbukti, hingga akhir Oktober 2018 riset Indonesia yang terpublikasi internasional sudah diangka 22.222 dan Malaysia diangka 24.045 sementara Singapura 17.600 dan Thailand di angka 13.200. “Saat ini kita nomor dua di Asia Tenggara,” ujarnya.

Di samping itu, pemerintah pun mulai mengkonsolidasikan riset yang biasanya berjalan sendiri-sendiri. Dalam pemerintahan saat ini kebijakan dari Presiden Jokowi melalui Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2018 Tentang Rancangan Induk Riset Nasional (RIRN) yang akan mengawal riset ke depan.

Nasir menyebut, dalam RIRN 2015-2045 tersebut ada 10 bidang sesuai kebutuhan industri yaitu

pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, teknologi informasi komunikasi, transportasi, material maju, teknologi pertahanan, energi terbarukan, kemaritiman, bencana dan humaniora. Harapannya, RIRN ini bisa dinaungi dalam RUU Sistem Nasional Iptek.

“Semua riset yang ada tidak terintegrasi dengan baik tersebar dan menghasilkan inovasi yang tidak baik,” tandasnya.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/