Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni, dan Agama/Religi/Kepercayaan

Home / Pendidikan / Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni, dan Agama/Religi/Kepercayaan

Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni, dan Agama/Religi/Kepercayaan

Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni, dan Agama/Religi/Kepercayaan

Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni, dan Agama/Religi/Kepercayaan
Keberagaman kebudayaan suku-suku bangsa timbul dikarenakan bermacam sebab, baik yang berasal berasal dari luar penduduk (faktor eksternal) maupun berasal dari didalam penduduk sendiri (faktor internal). Faktor internal adalah pengaruh unsur-unsur kebudayaan universal terhadap keberagaman kebudayaan suku-suku bangsa. Dari lebih dari satu unsur-unsur kebudayaan universal layaknya yang udah diterangkan di atas, dapat kita kaji di antaranya kesenian, bahasa, dan proses religi.

1. Bahasa
Suku-suku bangsa di bermacam area di Indonesia memiliki bhs masing-masing sebagai alat komunikasi, antara lain sebagai berikut;
Dalam pergaulan antarsesamanya suku bangsa Aceh berbicara bersama bhs daerahnya sendiri, yaitu bhs Aceh.
Masyarakat Tapanuli didalam pergaulan di antara mereka sendiri berbicara bersama bhs Batak.
Demikian halnya suku bangsa Melayu, Jawa, Betawi, Sunda, Bugis, Makassar, Ambon, Papua dan sebagainya mereka berbicara bersama sesamanya manfaatkan bhs area masing-masing.
Betapa beragamnya suku-suku bangsa di Indonesia, mereka berbicara manfaatkan bhs daerahnya masing-masing. Jika kedapatan ada seseorang berasal dari suku bangsa Jawa berbicara didalam bhs Jawa di hadapan orang berasal dari suku bangsa Bugis yang sama sekali tidak jelas bhs Jawa, pasti saja tidak dapat berjalan komunikasi. Oleh dikarenakan itu, didalam arena pergaulan antarsuku bangsa digunakan bhs yang dipahami oleh semua suku bangsa, yaitu bhs Indonesia. Bahasa Indonesia sendiri dikembangkan berasal dari bhs Melayu. Pada selagi itu, bhs Melayu udah menjadi bhs pergaulan, terlebih di pelabuhan-pelabuhan dan tempat-tempat bertemunya orang-orang yang datang berasal dari bermacam daerah. Suku bangsa Jawa yang berdagang ke Sumatra andaikan berbicara bersama teman dagangnya didalam bhs Melayu. Demikian pula orang-orang berasal dari suku lain didalam pergaulan antarsuku manfaatkan bhs Melayu. Oleh dikarenakan itu, bhs Melayu merupakan bhs pergaulan (lingua franca). Berdasarkan keadaan tersebut, maka bhs Melayu diangkat sebagai bhs persatuan bersama nama bhs Indonesia.

2. Kesenian
Seni adalah penggunaan kreatif imajinasi manusia untuk menerangkan, memahami, dan menikmati kehidupan. Dalam kebudayaan-kebudayaan lain, seni sering digunakan untuk keperluan yang dianggap perlu dan praktis. Para ahli antropologi udah mendapatkan bahwa seni mencerminkan nilai-nilai kebudayaan dan perhatian rakyat. Dari hal itu ahli, antropologi sanggup jelas bagaimana suatu bangsa mengatur negaranya dan jelas sejarahnya.

Demikian terhitung seni musik, patung, dan seni rupa sanggup menjadi layanan untuk jelas pandangan dunia seseorang. Adapun lewat belajar distribusional, kesenian sanggup menjadi gambaran mengenai peristiwa bangsa.
Di samping menaikkan kenikmatan didalam hidup sehari-hari, kesenian membawa faedah yang bermacam ragam. Fungsi mitos andaikan memilih norma untuk perilaku yang teratur, kesenian verbal biasanya meneruskan tradisi istiadat dan nilai-nilai budaya. Ada terhitung yang berbentuk nyanyian, musik, dan lain-lain.

Seni adalah product style perilaku manusia yang khusus, yaitu penggunaan imajinasi kreatif untuk menerangkan, memahami, dan menikmati hidup. Misalnya kita sanggup mendengar lagu mengenai laut yang monoton demi kepuasan estetis saja.

Namun demikian, terhadap sebenarnya dikala orang manfaatkan perahu layar lagu itu berikan dorongan dan benar-benar bermanfaat. Hubungan antara seni dan aspek-aspek kebudayaan adalah biasa didalam penduduk di semua dunia. Hal itu terhitung wajib adanya gabungan spesifik yang sama antara simbol yang mewakili bentuk dan ungkapan perasaan yang merupakan imajinasi kreatif. Tanpa adanya permainan-permainan imajinasi kita menjadi bosan, dan sanggup mematikan produktivitas.

Oleh dikarenakan itu, kesenian bukan suatu kemewahan yang cuma dimiliki dan dinikmati oleh kelompok kecil seniman, namun terhitung semua orang yang normal dan turut dan juga berperan aktif. Dalam kesenian, kita bebas menciptakan pola, rangkaian cerita, ritme yang cocok bersama anggapan kita.
a. Seni Verbal
Istilah folklore diciptakan terhadap abad ke-19 untuk membuktikan dongeng, kepercayaan, dan tradisi rutinitas yang tidak tertulis berasal dari kaum tani Eropa sebagai lawan rutinitas kaum elit terpelajar. Ahli linguistik dan antropologi lebih puas berbicara mengenai rutinitas lisan dan seni verbal suatu kebudayaan daripada folklore dan dongeng rakyat.
Kesenian verbal meliputi cerita drama, puisi, peribahasa, lebih-lebih berikan prosedur, pujian dan sebagainya. Hal-hal itu gampang dipublikasikan dan memiliki energi tarik kondang berasal dari kebudayaan rakyat. Pada biasanya cerita itu terbagi menjadi 3 kategori pokok, yaitu mitos, legenda, dan dongeng.
1) Mitos
Mitos adalah cerita mengenai peristiwaperistiwa historis yang menerangkan masalahmasalah akhir kehidupan manusia. Pada dasarnya mitos berbentuk religius dan masalah yang dibicarakan adalah masalah-masalah pokok kehidupan manusia, antara lain berasal dari mana asal kita, mengapa kita di sini, ke mana tujuan kita, dan sebagainya. Setiap aspek-aspek yang benar-benar luas sanggup disebut mitos. Mitos merupakan paparan yang menerangkan secara implisit mengenai area mereka di tengah-tengah alam dan mengenai seluk-beluk dunia mereka. Mengkaji mengenai mitos merupakan style kreativitas manusia yang benar-benar perlu dan terhitung berikan petunjuk-petunjuk yang berharga.

2) Legenda
Legenda adalah cerita turun temurun berasal dari zaman dahulu yang menceritakan perbuatan-perbuatan pahlawan, pindahan penduduk, dan pembentukan tradisi istiadat lokal. Legenda tidak banyak mempunyai kandungan masalah, namun terhitung lebih kompleks berasal dari terhadap mitos.
Legenda berguna untuk menghibur dan berikan pelajaran dan juga menaikkan kebanggaan seseorang atas keluarga, suku atau bangsanya. Legenda yang lebih panjang terkadang berbentuk puisi atau prosa yang dikenal bersama nama epik. Legenda sanggup mempunyai kandungan rincian mitologis, terlebih kalau menyinggung keadaan supranatural. Oleh dikarenakan itu, kadang legenda tidak sanggup dibedakan secara jelas bersama mitos.

3) Dongeng
Kata dongeng dianggap sekuler murni, dishistoris, dan berbentuk cerita khayalan. Dongeng-dongeng internasional yang kondang adalah mengenai si bodoh. Versiversi selanjutnya dicatat di Indonesia, India, Timur Tengah, Spanyol, dan Italia.
Dongeng selanjutnya diklasifikasikan didalam katalog sebagai dongeng yang mempunyai kandungan keadaan cerita atau motif dasar. Setiap versi dongeng membawa struktur rangkaian perihal yang terkadang disebut sintaksis cerita.
Terbukti didalam kebudayaan spesifik orang dapat mengategorikan dongeng-dongeng lokal, dongeng hewan, tipu muslihat, hantu, moral, dan sebagainya.
Seperti halnya legenda, dongeng sering terhitung melukiskan pemecahan lokal etis yang terdapat secara universal. Makin sering kita mengamati bermacam kesenian secara terpisah tambah jelas bahwa kesenian saling berhubungan.

b. Seni Musik
Studi seni musik dimulai terhadap abad ke-19 bersama pengambilan nyanyian-nyanyian rakyat. Dalam perkembangan keluar cabang pengetahuan khusus, yang disebut etnomusikopologi. Etnomusikopologi, yaitu langkah untuk mendekati style ungkapan musikal yang sama sekali asing. Kegiatan selanjutnya dilaksanakan bersama mempelajari terlebih dahulu faedah musik didalam hal melodi, ritme, dan bentuk.
1) Unsur-Unsur Musik
Pada biasanya musik manusia berbeda bersama musik alamiah. Misalnya nada nyanyian burung, srigala, ikan paus, dan lainnya.
Dalam proses Barat atau Eropa, jarak antara nada basic dan nada atas yang pertama disebut oktaf. Oktaf terdiri atas 7 tingkatan nada, dan diberi nama A hingga G. Meskipun demikian begitu cuma nada atas yang merupakan lebih dari satu berasal dari basic yang sanggup dianggap sebagai gejala alamiah sesungguhnya.

2) Fungsi Musik
Ahli antropologi banyak mendapat faedah bersama mempelajari faedah musik didalam masyarakat. Pertama jarang dikatakan bahwa kebudayaan tidak memiliki style musik. Bahkan orang-orang Tasaday di Filipina, yaitu sekelompok orang penghuni hutan yang baru-baru ini ditemukan oleh dunia luar, udah manfaatkan alat musik semacam harpa bambu yang disebut “kubing”. Semua itu adalah bentuk perilaku sosial yang merupakan umpama komunikasi dan suatu pemerataan perasaan hidup bagi orang lain. Fungsi musik yang paling jelas terdapat didalam nyanyian. Para peneliti musik dahulu terkesan pentatogis yang terlihat sederhana. Sebagian besar musik nonbarat dikesampingkan dikarenakan musik nonbarat dianggap sebagai musik “primitif” tanpa bentuk, tidak cukup istimewa, dan dianggap sepele.

c. Seni Patung
Dalam makna luas seni patung adalah seni tiga dimensi. Setiap bentuk tiga dimensi sanggup disebut patung. Misal; sebuah gapura, monumen / bangunan yang mempunyai kandungan pokok-pokok artistik yang sama bersama patung, topeng / arca. Seorang seniman udah berikan bentuk nyata terhadap perasaan dan inspirasi untuk menciptakan atau mencipta lagi bentuk-bentuk yang lebih bermakna. Dalam makna sempit patung sanggup diambil kesimpulan sebagai hasil karya yang tidak langsung untuk keperluan spesifik dan dibuat berasal dari bahan keras atau bahan semi permanen.
Kata “seni patung” agaknya berbeda bersama aktivitas kreatif yang ada didalam kehidupan sehari-hari. Istilah seni patung digantikan bersama arti “seni plastik”. Barang-barang yang jelas dibuat bersama keterampilan tidak seluruhnya dianggap sebagai patung dikarenakan agak sederhana, tidak permanen, dan ukuran tidak besar. Barang-barang hasil keterampilan disebut sebagai hasil kerajinan.
Sebuah mobil, andaikan sebagus apa pun bentuknya, dan di manapun penempatannya, mobil merupakan benda yang dikagumi dan berguna sebagai simbol berasal dari kebudayaan kita.
Adapun yang disebut seni patung atau seni plastik biasanya tidak artistik secara kebetulan, namun dikarenakan rekayasa seorang seniman, andaikan patung “Daud” berasal dari Michaelangelo adalah patung representatif, mengenai suatu kejelekan manusia. Patung itu terhitung abstrak sejauh patung itu menggeneralisasikan ideal keindahan tubuh laki-laki, kekuatan yang mantap, dan ketenangan emosinya.

3. Agama
a. Pengertian Agama
Agama sanggup dipandang sebagai keyakinan dan pola perilaku, yang diusahakan oleh manusia untuk menaungi masalah-masalah yang tidak sanggup dipecahkan bersama teknologi dan tehnik organisasi yang diketahuinya. Adapun beberapa ciri untuk mengidentifikasikan agama, antara lain terdiri atas berbagai macam ritual, doa, nyanyian, tari-tarian, dan kubur untuk memanipulasi kekuatan supranatural yang terdiri atas dewa-dewa, arwah leluhur, maupun roh-roh. Dalam semua penduduk ada orang-orang spesifik yang memiliki pengetahuan spesifik mengenai makhluk-makhluk dan aktivitas ritual (keagamaan). Semua agama membawa fungsi-fungsi psikologi dan sosial yang penting. Agama kurangi kecemasan dan menerangkan apa yang tidak diketahui. Agama menanamkan mengenai baik dan jahat terhitung benar dan salah. Melalui upacara agama sanggup digunakan untuk memantapkan pelajaran mengenai rutinitas lisan.
Menurut mitos, orang Indian Tewa di New Mexico keluar berasal dari sebuah danau sebelah utara area kediamannya sekarang. Bagi orang Tewa segala yang ada di dunia terbagi ke didalam enam kategori, yaitu tiga kategori manusia dan tiga kategori supranatural. Kategori supranatural itu tidak cuma dianggap sama bersama manusia, namun terhitung cocok bersama dunia ilmiah. Alfonso Ortiz seorang ahli antropologi berpendapat bahwa orang Tewa berasumsi bahwa agama tidak hanyab logis namun berguna didalam masyarakat. Agama orang-orang Tewa benar-benar meresapi setiap segi kehidupan. Itulah basic pandangan dunia orang Tewa, mengenai dunia yang satu, namun dualistis. Di dalamnya terdapat banyak titik pertemuan yang sebabkan keduanya dilestarikan sebagai satu komunitas. Komunitas yang dikeramatkan bersama memberinya suatu asal-usul supranatural dan upacara peralihan (“rites of passage”).
Semua agama memenuhi banyak kebutuhan sosial dan psikologis, layaknya kematian, kelahiran, dan lain-lain. Agama sanggup menjadi layanan bagi manusia untuk mengingat diri berasal dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan. Fungsi agama secara sosial tidak kalah pentingnya daripada faedah psikologisnya. Agama tradisional memperkuat norma-norma kelompok.
Norma-norma merupakan sanksi moral untuk perbuatan-perbuatan perorangan dan merupakan nilai-nilai yang menjadi landasan keseimbangan masyarakat. Agama didalam penduduk tidak cuma menarik pengikut-pengikutnya namun udah mengundang kebangkitan yang kuat berasal dari orang-orang fundamentalis bersama prasangka anti fundamentalis dan pengetahuan pengetahuan yang kuat pula. Dalam hal ini, fundamentalis adalah para penganut gerakan keagamaan yang berbentuk kolot dan reaksioner ingin lagi terhadap ajaran-ajaran agama layaknya yang terdapat didalam kitab suci. Adapun fundamentalisme merupakan jelas yang ingin memperjuangkan sesuatu yang condong secara radikal. Contohnya fundamentalisme Islam Ayatullah Khomeini di Iran dan fundamentalisme Kristen berasal dari Jerry dan tokoh-tokoh lain di Amerika Serikat.

b. Pendekatan Antropologi terhadap Agama
Anthony F. C. Wallace membatasi agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos. Definisi selanjutnya mempunyai kandungan suatu pengakuan bahwa kalau tidak sanggup menanggulangi masalah betul-betul yang mengundang kegelisahan, maka manusia mengatasinya bersama kekuatan supranatural. Untuk itu digunakan upacara keagamaan. Hal selanjutnya oleh Wallace dipandang sebagai gejala agama yang utama atau sebagai kelakuan (religion in action). Fungsi yang utama ialah untuk kurangi kecemasan dan untuk memantapkan keyakinan kepada diri sendiri.
Jadi, agama sanggup dipandang sebagai keyakinan dan pola perilaku yang digunakan untuk mengendalikan segi alam semesta yang tidak sanggup dikendalikan. Kegiatan agama barangkali tidak begitu perlu bagi kaum elit sosial dikarenakan mereka berasumsi dirinya sendiri lebih sanggup mengendalikan nasibnya sendiri, layaknya bagi kaum petani atau anggota-anggota kelas bawah.

c. Praktik Keagamaan
Banyak nilai agama yang berasal berasal dari praktik-praktik upacara keagamaan mengundang suatu rasa “transendensi pribadi”. Meskipun upacara dan praktik agama benar-benar bermacam ragam, lebih-lebih upacara yang bagi kita terlihat ganjil dan eksotis sanggup dibuktikan lewat faedah sosial dan psikologis.

d. Makhluk dan Kekuatan Supranatural
Salah satu ciri agama adalah keyakinan kepada makhluk dan kekuatan supranatural. Adapun makhluk selanjutnya sanggup dikategorikan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1) Dewa dan Dewi
Dewa dan Dewi adalah makhluk-makhluk perlu yang agak jauh berasal dari manusia. Mereka masing-masing berkuasa atas bagian-bagian spesifik berasal dari alam semesta. Misal; di Yunani terdapat Zeus (Dewa Langit).

2) Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi layaknya kepunyaan orang Yunani.
Misal suku bangsa Aztec di Mexico mengakui adanya pasangan dewa-dewi tertinggi, namun mereka tidak menyimpan perhatian kepadanya. Alasannya dikarenakan mereka itu begitu jauh, perhatian suku bangsa Aztec dipusatkan kepada dewa-dewi yang secara langsung terlibat didalam masalah manusia.

3) Arwah Leluhur
Kepercayaan kepada arwah leluhur sejalan bersama pengertian yang tersebar luas bahwa manusia terdiri atas 2 bagian, yaitu tubuh dan roh penghidupan. Mengingat inspirasi atas konsep itu, maka roh yang ada terhadap orang meninggal dibebaskan berasal dari tubuh dan senantiasa tetap hidup di luar sana. Arwah leluhur dipercaya benar-benar sama bersama orang yang tetap hidup didalam hal selera, emosi dan perilaku.

e. Animisme
Salah satu keyakinan yang sangat percaya mengenai makhluk-makhluk supranatural adalah animisme. Sir Edward Taylor mendapatkan konsep tersebut. Pada tahun 1873 ia lihat banyak umpama animisme. Misal; suku bangsa Dayak di Kalimantan yakin bahwa padi memiliki jiwa dan mereka mengadakan perayaan untuk mempertahankan jiwa selanjutnya untuk menjauhkan terjadinya kegagalan panen.

f. Animatisme
Animatisme adalah suatu proses keyakinan yang sangat percaya bahwa benda-benda atau tumbuhan yang ada di sekeliling manusia memiliki jiwa dan sanggup berpikir, layaknya manusia. tetapi, proses keyakinan ini tidak mengundang aktivitas keagamaan guna memuja benda-benda dan tumbuhan itu. Akan namun hal itu sanggup menjadi unsur didalam sebuah religi.
Benda-benda pusaka / senjata dianggap memiliki kesaktian dan mengundang keyakinan bagi penduduk tertentu. Misal; benda keramat yang bernama “Kereta Kencana” berasal dari Keraton Jogjakarta. Pada setiap tanggal 1 Muharram (Suro), kereta kencana itu dimandikan. Bekas air penyiraman itu diperebutkan oleh banyak orang, dikarenakan mereka yakin bahwa air itu sanggup berikan tuah awet muda dan gampang mendapat rezeki.

g. Petugas Keagamaan
Pendeta (pria dan wanita) adalah spesialis keagamaan yang bekerja penuh (full time). Orang-orang layaknya itu benar-benar mahir menghubungi, mempengaruhi dan memanipulasi kekuatan-kekuatan supranatural. Ia udah menjalani inisiasi sosial dan dilantik bersama upacara sebagai bagian organisasi keagamaan yang diakui, bersama kedudukan, dan tugas yang menjadi miliknya sebagai pewaris jabatan yang di awalnya dipegang orang lain. Sumber kekuasaannya adalah penduduk dan instansi di mana pendeta pria dan wanita itu bertugas.

h. Shaman
Shaman adalah orang-orang yang secara individual memiliki kekuatan spesifik dan biasanya berada di area yang sunyi dan terpencil. Apabila roh yang Mahabesar (The Great of Spirit) dan Mahakuat (The Power) udah diperoleh maka ia dapat sanggup mengobati / meramal. Apabila lagi ke tengah-tengah masyarakat, ia dapat mendapat tugas keagamaan style lain, yaitu sebagai shaman.
Di Amerika Serikat jutaan orang udah jelas mengenai Shaman. Pengetahuan itu diperoleh berasal dari membaca otobiografi Black Elk, seorang dukun (medicine man) tradisional didalam buku Indian Sioux atau cerita-cerita yang berbentuk khayalan. Di kalangan penduduk Indian Crow, setiap orang laki-laki sanggup menjadi Shaman. Hal itu sanggup berjalan dikarenakan tidak ada organisasi keagamaan yang sebabkan undang-undang untuk mengatur kesadaran di bidang agama. Cara-cara yang dilaksanakan untuk menjadi Shaman antara lain bersama berpuasa lebih-lebih menyiksa dirinya sendiri.
Unsur-unsur didalam Shamanisme, antara lain cii-ciri benci, keadaan tak jelas (france), dan berbicara didalam bhs yang tidak dimengerti. Shaman terhadap hakikatnya ialah seorang pengusaha agama yang bekerja untuk keperluan seseorang yang menjadi kliennya. Sebagai imbalan atas jasa-jasanya yang diberikan, Shaman terkadang memungut upah daging segar atau harta yang disukainya. Sebuah segi spesifik Shamanisme yang oleh orang Barat dianggap menganggu ialah perempuan-perempuan yang biasanya terdapat di didalam praktik Shamanisme itu. Kenyataan lain bahwa klien jalankan pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu.

i. Ritual dan Perayaan Keagamaan
Ritual keagamaan merupakan layanan yang menghubungkan manusia bersama hal-hal yang berbentuk kramat. Ritual sanggup memperkuat ikatan sosial, kelompok, dan kurangi ketegangan. Para ahli antropologi udah mengklasifikasikan lebih dari satu style ritual antara lain sebagai berikut;
1) Upacara Peralihan (Inisiasi)
Upacara peralihan (rites of passage) adalah upacara keagamaan yang berhubungan bersama tahap-tahap perlu didalam kehidupan manusia layaknya kelahiran, kematian, dan perkawinan. Arnold van Gennep menganalisis upacara peralihan yang membawa manusia melintasi krisis yang memilih didalam kehidupannya layaknya kelahiran, pubertas, perwakilan menjadi ayah/ibu, dan lain-lain. Van Gennep memaparkan upacara inisiasi (peralihan) untuk orang laki-laki suku bangsa asli Australia. Apabila para sesepuh udah memilih waktunya, maka anak laki-laki diambil berasal dari desa, di bawah tangis kaum wanita yang menurut upacara pura-pura menentang. Klimaks upacara ini berbentuk penggarapan badaniah, layaknya pencabutan gigi.
Selama upacara pubertas di Australia itu, anak yang diinisiasikan wajib mempelajari tradisi dan pengetahuan sukunya. Dalam penduduk buta aksara, metode belajar yang efisien layaknya itu diperlukan untuk kelestarian penduduk si anak baru (novice). Hal itu disambut bersama upacara-upacara seolah-olah ia lagi berasal dari alam orang-orang mati.

2) Upacara Intensifikasi
Upacara intensifikasi adalah upacara yang menyertai keadaan krisis didalam kehidupan kelompok dan bukan didalam kehidupan individu. Misalnya krisis tidak cukup hujan sehingga membahayakan tanaman dan menggelisahkan semua orang. Oleh dikarenakan itu, diselenggarakan upacara massal untuk meredakan bahaya itu. Sementara kematian orang dianggap krisis paling akhir didalam kehidupan individu. Oleh dikarenakan itu, orang-orang yang tetap hidup wajib mengembalikan keseimbangan itu. Misalnya salah satu bagian berasal dari upacara kematian orang Melanesia ialah memakan daging orang yang meninggal. Hal itu dilaksanakan bersama rasa jijik dan disusul bersama muntah-muntah hebat. Menurut Malinowski upacara penguburan merupakan layanan kolektif untuk mengungkap perasaan privat bersama langkah direstui penduduk dan untuk pelihara persatuan.
Penyelenggaraan upacara itu tidak terbatas cuma kalau ada krisis terbuka terlebih negara-negara yang hidup berasal dari hortikultura dan pertanian. Upacara biasanya dilaksanakan berhubungan bersama era tanam, era berbuah, dan era panen. teks eksplanasi

j. Fungsi Agama
Praktik keagamaan mempunyai kandungan lebih dari satu faedah psikologis dan sosial. Di sini fungsi-fungsi selanjutnya menjadi lebih penting, yaitu sediakan style alam semesta secara teratur yang berperan untuk konsistensi manusia. Dengan keadaan tersebut, maka terciptalah keadaan yang baik untuk menanggulangi krisis secara teoritis.
Fungsi sosial berasal dari agama adalah berikan sanksi kepada sejumlah besar tata kelakuan yang menyimpang. Dalam konteks ini agama memegang guna perlu didalam pengendalian sosial. Hal itu terlaksana lewat pengertian mengenai baik dan jahat. Fungsi psikologis agama adalah melewatkan setiap bagian penduduk berasal dari lepasnya tanggung jawab didalam pengambilan keputusan, setidak-tidaknya didalam keadaan yang penting.

Demikianlah ulasan mengenai “Hubungan dan Fungsi Bahasa, Seni, dan Agama/Religi/Kepercayaan”, yang terhadap peluang ini sanggup dibahas disini. Semoga ulasan yang udah diuraikan di atas berguna bagi para pengunjung ataupun pembaca. Cukup sekian dan Sampai jumpa!!

baca juga :