Dubes: Saputangan Bung Karno, Jadi Bagian Sejarah Sudan

Home / Pendidikan / Dubes: Saputangan Bung Karno, Jadi Bagian Sejarah Sudan

Dubes: Saputangan Bung Karno, Jadi Bagian Sejarah Sudan

Dubes: Saputangan Bung Karno, Jadi Bagian Sejarah Sudan

Dubes Saputangan Bung Karno, Jadi Bagian Sejarah Sudan

Dubes Saputangan Bung Karno, Jadi Bagian Sejarah Sudan

BANDUNG – Usai pertemuan antara Menteri Luar Negeri Sudan Ali

Ahmed Karti dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Duta Besar RI untuk Sudan, Sujatmiko mejelaskan tentang hubungan historical Indonesia dengan Sudan. Menurut Sujatmiko, Sudan itu sangat menaruh hormat pada Indonesia terutama Bung Karno.

“Ceritanya dulu, waktu KAA tahun 1955, Bung Karno sempat

memberikan saputangannya kepada pemimpin Sudan yang waktu itu masih sebagai bagian dari Mesir. Bung Karno memberikan saputangannya sebagai symbol memberikan bendera untuk Sudan, padahal waktu itu Sudan belum menjadi Negara berdaulat” ujar Sujatmiko.

Oleh karenanya, peristiwa kecil itu, dicatat dalam sejarah Negara Islam

di Afrika itu. Peristiwa kecil itu menurut Sujatmiko sangat berbekas di hati para pendiri Negara Sudan, dan ditransformasikan ke generasi mudanya hingga saat ini. “Itu sudah menjadi bagian dari catatan sejarah Sudan. Artinya mereka menganggap, Bung Karno sudah mengakui Sudan sebagai Negara, jauh sebelum Sudan merdeka dan lepas dari Mesir. Itu sangat berbekas di hati para pendiri Negara Sudan. Maka dari itu, mereka sangat hormat pada Indonesia” katanya.

Keterkaitan sejarah itu menurut Sujatmiko harus diteruskan dalam bentuk kerjasama dalam berbagai bidang dengan Indonesia. Salah satu yang sedang direncanakan adalah pengembangan pertanian di Sudan. “Saya sebagai duta besar di sana, sudah diberi tanah ratusan ribu hektar untuk dikelola dan dikembangkan dengan pola kerjasama dengan Indonesia, dan saya membidik Jawa Barat untuk bisa berperan penting dalam kerjasama pertanian itu. Saya berharap bisa membuka lahan pertanian persawahan di sana” tegas Sujatmiko, yang diamini oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.

 

Sumber :

https://yaplog.jp/ojelhtcmandiri/archive/2