Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Home / Pendidikan / Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Teori Perubahan Sosial Dahrendorft

Teori perubahan sosial oleh Dahrendortf berisi tentang hubungan stabilitas struktural sosial dan adanya perubahan sosial dalam masyarakat. Perubahan perubahan yang terjadi dalam struktur kelas sosial akan berakibat pada dua hal yaitu normatif ideologi atau nilai dan faktual institusional. Kepentingan dalam hal ini dapat menjadi nilai serta realitas dalam masyarakat.
Sesuai dengan teori konflik, persamaan atau equality merupakan hak bagi setiap warga negara. Apabila ada kepentingan suatu kelompok untuk menekankan persamaan tersebut, maka akan terjadi dua hal atau dua skenario dalam masyarakat yaitu:
  • Nilai persamaan yang diinginkan akan diterima dan dihayati (ideologis) oleh sebagian penduduk, yang berarti penduduk akan semakin tergila gila dengan persamaan tersebut dengan kata lain bersifat normatif ideologis.
  • Persamaan yang diinginkan tersebut akan diwujudkan dalam pengaturan kelembagaan seperti JAMKESMA bagi warga negara Indonesia, dan BOS Pendidikan 12 Tahun dan lainnya dengan kata lain bersifat faktual institusional.
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti yang dijelaskan dalam teori ini, dapat terjadi bersamaan dan dapat juga terjadi salah satunya terlebih dahulu.
Dalam teori perubahan sosial lebih lanjut (jika anda ingin pelajari yang lebih silahkan cari bukunya) menjelaskan tentang hubungan antara perubahan sosial pengaruhnya terhadap mobilitas sosial, dimana berbagai perubahan sosial telah memengaruhi status dan peranan sosial seseorang ataupun sekelompok orang.

# Teori Fungsionalis

Teori perubahan sosial ini melihat ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi sosial yang berlaku saat itu menjadi penyebab dari perubahan sosial. Dalam teori ini, Ogburn menambahkan tentang adanya bagian dalam masyarakat yang tidak ikut berubah, atau statis. Dengan kata lain, tidak semua segi dalam masyarakat dan kebudayaannya berubah dalam perubahan sosial yang terjadi.
Dalam teori ini, Ogburn mengkritik kelompok masyarakat yang menganggap kelompok lain yang tidak mengikuti perubahan sosial yang sebagai ketimpangan kebudayaan ataupun kesenjangan. Contoh perbandingan antara masyarakat Kajang Pedalaman dan masyarakat Bulukumba bagian perkotaan. Tentu saja hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang memberikan “loncatan” pada budaya yang ada. Teori perubahan sosial ini beranggapan bahwa kelompok yang masih merasa nyaman dengan yang telah ada, tidak akan ikut berubah, dan kelompok yang merasa tidak nyaman dengan kondisi saat itu akan berubah. Anak  muda cocok dengan teori fungsionalis yah…

# Teori Siklus

Teori perubahan sosial ini menjelaskan tentang perubahan sosial yang bagaikan roda yang sedang berputar, artinya perputaran zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dielak oleh manusia siapapun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Bangkit dan mundurnya suatu peradapan merupakan bagian dari sifat alam yang tidak dapat dikembalikan.
Oke, memang terkesan aneh, Teori ini diperkuat Ibnu Khaldun dalam bukunya yang terkenal sejagat “Muqadimah” (pembukaan paling tebal [Editor]) dan dan dijadikan sumber oleh Arnold Tonybee dalam mempelopori teori perubahan sosial ini.
Teori ini berhubungan dengan tantangan dan tanggapan. Apabila suatu masyarakat mampu memberikan tanggapan terhadap tantangan yang ada dalam peradapannya maka  masyarakat tersebut akan mengalami kemajuan. Akan tetapi, bila tidak mampu, maka akan terjadi kemunduran bahkan kehancuran.

# Teori Revolusi: Perubahan Sosial Super Cepat

Ini merupakan teori perubahan sosial yang terakhir dan tercepat. Seluruh masyarakat akan mengalaminya dan ikut berpartisipasi dalam peristiwa tersebut. Revolt merupakan asal katanya yaitu pemberontakan. Apabila sudah tidak ada kesesuaian dan kesepakatan antara masyarakat dan institusi yang ada (pemerintah) terhadap kondisi sosial dan struktur sosial maka skenario terburuk yang terjadi adalah pemberontakan atau revolusi.
Tentu saja, ada api maka ada asap. Syarat syarat terjadinya revolusi yaitu adanya keinginan untuk mengadakan perubahan dari mayoritas rakyat atau masyarakat yang ada. Kemudian adanya pemimpin yang siap mewadahi dan merumuskan perubahan sosial yang diharapkan. Selanjutnya yaitu waktu yang tepat untuk terjadinya revolusi, tentu saja perencanaan yang menyeluruh terhadap peristiwa revolusi.

Baca Juga :