Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan Dalam Artikel

Home / Pendidikan / Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan Dalam Artikel

Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan Dalam Artikel

Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan Dalam Artikel

Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan Dalam Artikel

Cara Menemukan Ide Pokok dan Permasalahan Dalam Artikel

Membaca secara sungguh-sungguh, teliti, dan kritis untuk menemukan isi sebuah bacaan adalah jenis membaca intensif. Begitulah cara kita mencari ide pokok atau permasalahan dalam (paragraf) artikel.

Mengapa harus ide pokoknya yang dicari? Ide pokok mewakili gagasan penulisnya. Dengan memahami ide pokok, sebenarnya kita telah menguasai permasalahan dalam bacaan itu.

sejarah bpupki dan ppki – Bagaimana dengan detail atau rincian atau hal-hal khusus di dalamnya? Menurut para pakar, membaca dengan memahami ide pokok secara otomatis masalah detail terurusi dan terkuasai.

Selain itu, bukankah yang akan kita ingat untuk jangka panjang adalah gagasan atau ide pokoknya, bukan hal-hal kecilnya?

Letak ide pokok paragraf  sebuah bacaan, termasuk artikel, biasanya bervariasi dengan kemungkinan sebagai berikut.

1. Awal paragraf (disebut paragraf deduktif)

Contoh:

Faktanya,  obat palsu sangat sulit dibedakan dari yang asli. Jangankan masyarakat awam, dokter, atau mereka yang ahli dalam bidang obat-obatan pun sulit membedakan mana obat palsu dan mana yang asli. Tidak  hanya kemasannya yang tampak sama. Warna obatnya juga sangat mirip obat asli. Bahkan, bau dan rasanya nyaris sama.

 

2. Akhir paragraf (disebut paragraf induktif)

Contoh:

Jangankan masyarakat awam, dokter, atau mereka yang ahli dalam bidang obat-obatan pun sulit membedakan antara obat palsu dan asli. Tidak  hanya kemasannya yang tampak sama. Warna obatnya juga sangat mirip obat asli. Bahkan, bau dan rasanya nyaris sama. Faktanya, obat palsu memang sangat sulit dibedakan dari yang asli.

 

3. Awal dan di akhir paragraf (disebut paragraf deduksiinduksi/campuran/kombinasi)

Contoh:

Obat-obatan palsu yang beredar di masyarakat tidak mudah dibedakan dari obat asli. Jangankan masyarakat awam, dokter, atau mereka yang ahli dalam bidang obat-obatan pun sulit membedakan mana obat palsu dan mana yang asli. Tidak  hanya kemasannya yang tampak sama. Warna obatnya juga sangat mirip obat asli. Bahkan, bau dan rasanya nyaris sama. Faktanya, obat palsu memang sangat sulit dibedakan dari yang asli.

 

4. Di tengah paragraf (disebut paragraf ineratif)

Contoh:

Jangankan masyarakat awam, dokter atau mereka yang ahli dalam bidang obat-obatan pun sulit membedakan mana obat palsu dan mana yang asli. Faktanya, obat palsu sangat sulit dibedakan dari yang asli. Tidak  hanya kemasannya yang tampak sama. Warna obatnya juga sangat mirip obat asli. Bahkan, bau dan rasanya nyaris sama.

 

5. Tanpa kalimat utama

Semua kalimat secara bersama mendukung satu gagasan (disebut paragraf naratif jika sifatnya menceritakan kejadian atau deskriptif jika sifatnya menggambarkan/melukiskan objek); ide pokok di seluruh paragraf.

Contoh:

Di pasaran banyak beredar obat berupa tablet. Tidak sedikit pula yang berbentuk kaplet. Dalam wujud cair pun tidak sulit ditemukan. Bahkan, obat isap sudah mulai digemari. Semula masyarakat tidak ambil pusing terhadap kabar merebaknya obat palsu.
Bagi mereka sulit membayangkan bagaimana obat bisa dipalsukan. Belakangan media massa semakin sering memberitakan. Bahkan, ada pengedarnya yang tertangkap dan mengakui perbuatannya. Tak pelak, masyarakat pun dibuat resah. YLKI, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia pun, memelopori unjuk rasa mengecam peredaran obat palsu.