Perdamaian, Toleransi & Pelayanan Publik

Home / Pendidikan / Perdamaian, Toleransi & Pelayanan Publik

Perdamaian, Toleransi & Pelayanan Publik

Perdamaian, Toleransi & Pelayanan Publik

 

Perdamaian, Toleransi & Pelayanan Publik

BANDUNG

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan bahwa berbagai inovasi yang dihadirkan oleh Kementerian Agama (Kemenag), memiliki beberapa indikator. Diantaranya adalah adanya peningkatan kegiatan keagamaan, perdamaian umat, toleransi diantara pemeluk agama, dan pelayanan kepada masyarakat.

“Nilai-nilai inovasi indikatornya adalah peningkatan kegiatan-kegiatan keagamaan, peningkatan perdamaian, toleransi, dan peningkatan juga inovasi-inovasi dalam melayani masyarakat melalui unit-unit teknis di Kementerian Agama,” kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil usai menjadi Inspektur Upacara dalam rangka Hari Amal Bhakti (HAB) ke-73 Kementerian Agama Tingkat Provinsi Jawa Barat 2019 di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Jl. Jenderal Sudirman No. 644, Kota Bandung, Kamis (3/1/19).

Pada kesempatan ini

Emil pun menekankan bahwa semua elemen di Kementerian Agama harus menjadi contoh dan inspirasi bagi masyarakat. Pegawai Kementerian Agama mempunyai beban moral yang tidak mudah.

“Dengan harapan juga siapa yang terlibat di Kementerian Agama punya beban tidak mudah, karena ada kata ‘agama’. Artinya harus lebih teladan, menjadi inspirasi bagi masyarakat,” tukasnya.

Untuk itu

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Buchori menuturkan, pihaknya telah melakukan berbagai langkah atau program di Kemenag Jawa Barat. Program ini menjadi bagian dari inovasi yang dilakukan oleh Kemenag Jabar.

Berikut berbagai inovasi yang telah dilakukan, yaitu: Penataan kelembagaan dalam rangka reformasi birokrasi melalui digitalisasi Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Meningkatkan kualitas pendidikan di pondok pesantren, Bantuan penyuluh agama Non-PNS terhadap semua agama di Jawa Barat yang sebelumnya Rp 500 ribu menjadi Rp 1 juta per bulan, Pemberdayaan ekonomi pondok pesantren, Meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji, Meningkatan kualitas pelayanan publik salah satunya pelayanan KUA, dan Pembangunan gedung KUA baru.

Tanggal 3 Januari 1946 menjadi hari bersejarah bagi Kementerian Agama. Pada hari itu, pemerintah Indonesia membentuk Kementerian Agama untuk menjaga dan memelihara, sekaligus mengembangkan kualitas pendidikan keagamaan masyarakat.

Melalui tema HAB

Melalui tema HAB tahun ini, yaitu “Jaga Kebersamaan Umat”, Menteri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Saifuddin mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama mampu menebarkan energi kebersamaan, merawat kerukunan, dan menempatkan diri di atas dan untuk semua kelompok dan golongan kepentingan. Terlebih di tahun politik seperti sekarang.

“Ajakan yang sama kepada semua elemen bangsa, mari jaga kebersamaan, keutuhan sesama anak bangsa. Segala ujaran, perilaku, dan sikap yang bisa menimbulkan luka bagi sesama saudara, mari kita hindari. Mari jauhi saling menebar benci, saling melempar fitnah keji, saling menyuburkan penyakit hati, dan saling melukai hati antarsesama anak negeri,” ajak Menag dalam sambutan yang dibacakan oleh Gubernur Emil.

Sementara itu, ada enam sasaran strategis program prioritas Kementerian Agama RI pada 2019 ini. Diantaranya: meningkatnya kualitas kehidupan umat beragama, meningkatnya harmoni sosial dan kerukunan umat beragama, meningkatnya kualitas pelayanan keagamaan, meningkatnya akses layanan pendidikan, meningkatnya mutu pendidikan agama dan keagamaan, dan peningkatan kualitas tata kelola pembangunan bidang agama.

Pada kesempatan yang sama, mewakili Presiden Joko Widodo

Emil memberikan anugerah Satya Lancana Karya Satya untuk pegawai Kementerian Agama yang telah memberikan pengabdiannya selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI Nomor: 122/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya.

Maksimalkan Kertajati Untuk Haji

Gubernur Ridwan Kamil mengatakan bahwa sebenarnya bandara Kertajati sudah siap untuk menjadi bandara pemberangkatan calon jemaah haji. Namun, pihaknya perlu waktu untuk menyiapkan sarana pendukung embarkasi seperti asrama haji atau penginapan.

“Kalau Kertajatinya sudah siap, tinggal nanti asrama hajinya. Karena belum ada bangunan dan memang perlu waktu. Karena tidak sesederhana itu,” kata Emil saat ditemui usai menjadi Inspektur Upacara dalam rangka Hari Amal Bhakti ke-73 Kementerian Agama Tingkat Provinsi Jawa Barat 2019.

Untuk itu, Emil meminta Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menyiapkan asrama haji di sekitar Bandara Kertajati.

“Koordinasi nanti dengan Kementerian Agama Provinsi (Jawa Barat) apakah bisa di tempat-tempat terdekat, yang penting kita manfaatkan secara maksimal Bandara Kertajati untuk pemberangkatan haji,” tandasnya.

 

Artikel Terkait: