Founder IAHGames Mengambil Keputusan Yang Salah

Home / Tekno / Founder IAHGames Mengambil Keputusan Yang Salah

Founder IAHGames Mengambil Keputusan Yang Salah

Founder IAHGames Mengambil Keputusan Yang Salah

Founder IAHGames Mengambil Keputusan Yang Salah

Founder IAHGames Mengambil Keputusan Yang Salah

IAHGames

dalam berbagai aspek, adalah perwujudan dari DNA Roland sebagai entrepreneur. Ia menjelaskan bagaimana perusahaan tersebut mengadopsi budaya percobaan yaitu membawa properti intelektual yang original tapi tidak begitu terkenal yang punya kemungkinan gagal yang besar.

“Eksperimentasi punya biaya yang besar,”

dan memberikan contoh bagaimana mereka merilis FIFA Online 2 untuk Asia Tenggara dan membangun komunitas game tersebut sampai hampir mencapai angka satu juta, hanya untuk kemudian kehilangan lisensi sekuel game tersebut karena direbut oleh pesaing. Meskipun menanggung risiko tersebut, IAHGames tidak memperoleh banyak hasil dari mendistribusikan brand yang sudah mapan.

Perusahaan ini juga secara aktif berinvestasi pada konten lokal yang original, mendukung developer game untuk melewati Game Box milik pemerintah Singapura dengan cara memberikan mentoring dan pemasaran.

Tapi Roland berharap bahwa budaya berani mengambil risiko ini akan membuahkan hasil dalam jangka panjang. Dengan banyaknya publisher game yang kesulitan di wilayah ini karena pendapatan dari game PC mulai melambat, IAHGames sudah memikirkan bagaimana menggapai pasar gamer mobile yang terus berkembang.

Beberapa tahun terakhir ini

adalah masa yang berat bagi IAHGames, yang mengalami masa sulit setelah kerja samanya dengan perusahaan Taiwan, Gigamedia, di tahun 2009 gagal. Perusahaan tersebut membeli saham IAHGames (sehingga hak milik IAHGames ada pada mereka). Tapi, Gigamedia gagal memberikan apa yang mereka janjikan. Pada akhirnya, Roland dan beberapa pegawai lama IAHGames lainnya harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli kembali saham tersebut.

Setelah semuanya terkendali, Roland mengarahkan perusahaannya ke arah pasar game mobile dan sosial. Meskipun game triple-A tetap populer, IAHGames mulai mendistribusikan game indie yang tidak begitu terkenal tapi punya potensi untuk populer, seperti Conquest Age, game RPG fantasi yang gratis, dan Spirit Horizon, game match-three puzzle fantasi. Kedua game tersebut dikembangkan oleh developer Singapura, Daylight Studios.

Selain terus berusaha merambah di game mobile, game sosial juga menjadi salah satu target IAHGames. Mereka bermitra dengan perusahaan lokal seperti Yuuzoo untuk membuat jejaring sosial untuk gamer yang mungkin akan mengingatkan kita pada Steam. Jaringan ini juga berfungsi sebagai saluran distribusi untuk game-game dari IAHGames.

Bulan Mei lalu,

Yuuzoo mengumumkan bahwa mereka mengakuisisi IAHGames dengan kesepakatan dimana shareholder IAHGames akan menerima uang dan saham dalam jumlah yang dirahasiakan. Dengan punya posisi di komunitas developer lokal, Roland berharap bisa melihat lebih banyak lagi pencipta game yang keluar dari batasan mereka dan mulai mengincar pasar global – cara yang sama yang ia gunakan untuk bersaing di pasar China ketika ia berada di sana. Developer lokal cenderung berpikir dan mengembangkan produk layaknya masyarakat Singapura pada umumnya. Tapi tingkah laku gamer sangat berbeda, dan tingkah laku tersebut bisa mempengaruhi bagaimana sebuah game seharusnya dikembangkan. Karena itulah developer lokal perlu lebih sering terjun langsung ke pasar, dan mulai melihat hal itu terwujud.

Sumber: https://www.ram.co.id/