Sumpah Pemuda, Bukan Hanya Berbahasa Satu, namun Bahasa Pemersatu

Home / Pendidikan / Sumpah Pemuda, Bukan Hanya Berbahasa Satu, namun Bahasa Pemersatu

Sumpah Pemuda, Bukan Hanya Berbahasa Satu, namun Bahasa Pemersatu

Sumpah Pemuda, Bukan Hanya Berbahasa Satu, namun Bahasa Pemersatu

 

Sumpah Pemuda, Bukan Hanya Berbahasa Satu, namun Bahasa Pemersatu

Pesawat Besar

Sumpah Pemuda harus menjadi ‘Pesawat Besar’  bagi semua elemen bangsa untuk menjadikan Indonesia kuat, karena berhasil menjaga, mengelola dan memberdayakan keberagaman selama kurang lebih 90 tahun. Sehingga kita tak hanya memperingati Sumpah Pemuda sebagai seremoni belaka, melainkan memaknai betul arti dari butir Sumpah Pemuda yang berbunyi “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Reiza D Dienaputra dalam opininya yang berjudul ‘Bahasa Persatuan’ (Pikiran Rakyat, 29 Oktober 2018). Reiza menuliskan ada pemahaman yang harus dimaknai dari dua butir Sumpah Pemuda yang memiliki implikasi berbeda mengenai bahasa.

Dia menjelaskan

kalimat “berbahasa satu, bahasa Indonesia” membawa implikasi hanya ada satu bahasa yang boleh hidup atau digunakan di bumi Indonesia yaitu bahasa Indonesia. Sedangkan butir “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” mengandung semangat bahwa bahasa Indonesia harus dijunjung setinggi-tingginya menjadi bahasa pemersatu bangsa. Dan saat bersamaan, bahasa daerah tetap dapat hidup dan berkembang.

“Sumpah Pemuda memperlihatkan kecerdasan dan kearifan para pemuda dalam melihat keberagaman Indonesia itu juga memperlihatkan pengakuan mereka akan keberadaan kebudayaan daerah sekaligus keharusan untuk menjaga melestarikan dan mengembangkannya,” katanya.

Makna sumpah pemuda inilah, yang menurut Reiza akhir-akhir ini sepertinya terlupakan. “Di peringatan Sumpah Pemuda ini, kesadaran para pemuda akan pentingnya menjaga kebersamaan harus menginspirasi semua anak bangsa untuk menjaga dan meneruskannya,” tutur Reiza.

Guru Bahasa Indonesia SMKN 3 Bandung

Sedangkan menurut Guru Bahasa Indonesia SMKN 3 Bandung, Sugiharti mengatakan, siswa harus mulai memupuk kecintaan dan memaknai sumpah muda dengan cara mempelajari bahasa Indonesia. “Lewat bahasa Indonesia, siswa dituntut mampu mengenal dan mencintai bahasa persatuan kita,” tutur Sugiharti saat ditemui di SMKN 3 Bandung, Jalan Solontongan, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Senin, 29 Oktober 2018.

 

Artikel Terkait: