IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

Home / Pendidikan / IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

Paradigma metodologi pembelajaran saat ini disadarai atau tidak telah mengalami suatu pergeseran dari behaviorisme ke konstruktivisme yang menuntut guru di lapangan harus mempunyai syarat dan kompetensi untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Guru dituntut lebih kreatif, inovatif, tidak merasa sebagai teacher center, menempatkan siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi juga sebagai subjek belajar dan pada akhirnya bermuara pada proses pembelajaran yang menyenangkan, bergembira, dan demokratis yang menghargai setiap pendapat sehingga pada akhirnya substansi pembelajaran benar-benar dihayati.


Pembelajaran menurut pandangan konstruktivisme adalah : “ Pembelajaran dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pembelajaran bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pembelajaran itu dan membentuk makna melalui pengalaman nyata (Depdiknas,2003 : 11)

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak guru saat ini cenderung pada pencapaian target kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Selain itu pelaksanaan pembelajaran lebih cenderung disampaikan secara konvensional, pembelajaran hanya berpusat pada guru, siswa dalam kondisi ini hanya bersifat pasif dan tidak terlibat secara aktif sehingga tidak mendorong siwa dalam mengembangkan keterampilan berpikir. Menurut Syaiful Sagala (2003 : 201) pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran klasik, guru memberi ceramah (ekspository), sedangkan siswa mendengar, mencatat, setelah itu menghafal.


Dalam pembelajaran konvensional selama belajar mengajar tampak bahwa siswa kurang aktif dalam kegiatan tersebut. Siswa lebih banyak mendengarkan dan menuis apa yang diterangkan atau ditulis oleh guru di papan tulis. Berdasarkan hasil penelitian pusat kurikulum (PUSKUR), ternyata metode ceramah dengan guru menulis di papan tulis merupakan metode yang paling sering digunakan Kaswan (2004). Disisi lain menurut Hartono Kasmadi (1993:24) bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dimana pengajar masih memegang peran yang sangat dominan, pengajar banyak ceramah (telling method) dan kurang membantu aktivitas nurid.

Berdasarkan PP no 19 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa pengembangan kurikulum sekolah tingkat satuan pendidikan (KTSP), Kurikulum ini sangat menuntut peserta didik mempunyai kompetensi dan keterampilan dalam berbagai bidang yang nantinya sangat berguna dalam kehidupan yang akan datang ketika mereka terjun dalam kehidupan bermasyarakat.


Penulis yakin pada saat ini banyak guru yang telah melaksanakan konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas tetapi volumenya masih terbatas, karena kenyataan di lapangan kita masih banyak menjumpai guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya melaksanakan kewajiban. Ia tidak memerlukan strategi, metode dalam mengajar baginya yang penting bagaimana sebuah pembelajaran dapat berlangsung baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya. Interaksi di bidang pendidikan dapat diwujudkan melalui interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan masyarakat, guru dengan guru, guru dengan masyarakat di sekitar lingkungannya.

Proses interaksi siswa dapat dibina dan merupakan proses pembelajaran, seperti yang dikemukakan oleh Corey (1986) dalam Syaiful Sagala (2003:61) dikatakan bahwa : “pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu” Selanjutnya Syaiful Sagala menyatakan bahwa pembelajaran mempunyai dua karakteristik, yaitu : “Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses berpikir, Kedua, dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri” (Syaiful Sagala,2003,63).


Implementasi pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran diwujudkan dalam bentuk pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center). Guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, sehingga siswa bekerja sama secara gotong royong (cooperative learning).

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam teori ini, penekanan diberikan kepada siswa lebih dari pada guru. Hal ini karena siswalah yang berinteraksi dengan bahan dan peristiwa dan memperoleh kepahaman tentang bahan dan peristiwa tersebut. Mc Brien & Brandt (dalam Isjoni,2007) menyebutkan konstruktivisme adalah satu pendekatan pengajaran berdasarkan pada penyidikan tentang bagaimana manusia belajar.


Sumber : https://www.ilmubahasainggris.com/